Tapal Batas

Melihat Keraton Surya Negara dan Pedang Pusaka 1616

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 02 Agu 2017 15:29 WIB
Keraton Surya Negara, Sanggau. Foto: (Rachman Haryanto/detikTravel)

Pelan-pelan, dia menyarungkan kembali pedang itu dan memasukkan ke lemari kaca. Pedang inilah yang menandai pendirian Kesultanan Sanggau Surya Negara. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2016 tentang Hari Jadi Kota Sanggau juga mendapatkan kesimpulan dari bukti sejarah yang semakin berkarat ini.

"Hari Jadi Kota Sanggau ditetapkan pada tanggal 3 April 1616," bunyi Pasal 2 di Perda itu.

Ukiran 1616 di pedang pusaka Keraton Surya Negara.Ukiran 1616 di pedang pusaka Keraton Surya Negara. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Di berbagai penjelasan buku tentang Kerajaan Sanggau, memang banyak dicantumkan penjelasan demikian. Misalnya buku 'Pasak Negeri Kapuas 1616-1822' karya Tomi, S.Pd. Namun Pak Nong tak terlalu percaya dengan kesimpulan itu. Dia masih menyimpan kecurigaan bahwa Kerajaan Sanggau berdiri sebelum 1616.

"Kalau dari ceritanya Pak Tomi, berdirinya Kerajaan Sanggau tahun 1616. Padahal sebelum itu, Sanggau sudah ada," kata Pak Nong.

Dia belum bisa mengemukakan alasan detil yang mendasari pendapatnya, kecuali perkiraan bahwa sudah ada wilayah Kerajaan Sanggau di sekitar sini, dekat kawasan yang disebut Muara Kantu', sebelum Kerajaan Sanggau berdiri tahun 1616. "Saya percaya itu sudah ada sejak 1400-an," ujarnya.

Pedang yang terukir angka 1616 itu dipercaya sebagai salah satu bukti keberadaan Kerajaan Sanggau di zaman dulu. Alkisah, sebelum membangun pusat kekuasaan, Sultan Awaludin berusaha membuat terusan menuju Sungai Kapuas supaya mobilitas menggunakan perahu lebih lancar. Namun ada pohon Sangao, sejenis rambutan, melintang menghalangi pembangunan. Akar pohon jenis ini memang terkenal kuat dan sulit ditebas. Akhirnya Awaludin berhasil menebas pohon itu dengan pedang baru dari Mongol, pedang itu bernama Pedang Tan Cam atau Sancam. Diukirlah angka tahun pendirian kerajaan di pedang itu: 1616.

Pedang Tan Cam itu akhirnya disimpan sampai sekarang dan disaksikan detikcom ini. Namun Pak Nong tak terlalu percaya bahwa pedang itu berasal dari daerah Asia Timur. Dia menduga pedang ini berasal dari Eropa.

"Ini lebih mirip pedang Eropa. Lihat saja bentuknya ini, bentuk gagangnya," kata Pak Nong.

Bila dilihat dari bentuk gagang (hilt), ujung pemukul (pommel), dan pelindung (crossguard), agaknya bentuk pedang seperti ini juga mirip dengan pedang khas Mughal India Abad ke-17. Angka yang terukir di bilah menggunakan Angka Arab Barat (Arabic numeral) yang biasa digunakan orang Eropa, bukan Angka Arab Timur, Romawi, Sansekerta, atau Tiongkok.

Pak Nong sendiri mengaku tak tahu detail cerita semua benda yang ada di sini, kecuali hanya beberapa saja benda yang terkemuka. Tak ada juga yang mampu memberitahu soal keterangan dari setiap benda yang disimpan di ruangan pusaka ini. Budaya pencatatan mendetil memang tak terlalu dikedepankan sejak dulu. Itu pula yang menyulitkan penelitian orang-orang yang hendak membuat pendataan sejarah. Tuturan sejarah sering sekali bercampur legenda.

"Sedangkan data otentik tidak ada yang berupa buku atau catatan. Inilah Keraton Sanggau masalahnya. Lain dengan di Jawa sana," ujarnya.

Dia menggelengkan kepala saat ditanya tahun berapa meriam-meriam itu ada di Sanggau, atau pagar istana itu digunakan pada periode apa, termasuk juga soal sejarah keris yang disimpan di dalam. Perlu ada pendataan benda-benda bersejarah berikut penelitian lebih lanjut soal ini semua.

"Harus dicari betul-betul dari mana asal muasal Keraton Sanggau. Ditanya soal tahun berdirinya saja kami bisa bingung, karena masih abu-abu," tuturnya.

Zaman kini sudah sangat berjarak dengan zaman pendirian kerajaan dulu. Untuk itu, segala penilitian dan pencatatan diperlukan guna memastikan sejarah dari bukti-bukti yang tersisa. Istana Sanggau Surya Negara adalah salah satu sisa sejarahnya, inipun sudah tidak mengalami modifikasi karena langkah renovasi total pada 2004 hingga 2006.

"Yang asli hanya tangga kayu ulin di depan itu," kata Pak Nong.

Kayu Ulin di Keraton Surya Negara.Kayu Ulin di Keraton Surya Negara. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Pemeliharaan benda-benda pusaka harus lebih ditingkatkan agar pusaka itu tidak rusak. Ruangan penyimpanan juga perlu lebih ideal tanpa harus membuat bingung di mana lagi harus menyimpan peninggalan yang baru ditemukan seperti yang dialami Pak Nong. Contoh remeh lain: soal lampu. Penerangan ruang pusaka perlu senantiasa dalam kondisi prima supaya barang-barang pusaka tetap terjaga. Bila penerangan terjaga, tak perlu disergap gelap saat melihat Pedang Tan Cam yang bersejarah itu.

"Pemerintah sudah ada perhatian. Cuma pemeliharaannya saja, bagaimana memelihara barang ini dengan sungguh-sunggu karena sangat penting bagi bukti keberadaan Kerajaan Sanggau," tutur Pak Nong.

Istana ini merupakan Rumah Kuta alias rumah utama, tempat raja berkantor dan tinggal. Di dalam juga ada singgasana. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rumah Kuta ini memiliki luas kurang lebih 1.118 m2. Selain itu banyak bagian-bagian lain dalam kompleks istana, sampai Masjid Jami' Sulthan Ayyub. Kawasan Kompleks ini dikenal juga dengan sebutan Muara Kantu', di tepi Sungai Kapuas tak jauh dari pertemuan Sungai Sekayam.

Ikuti kondisi terkini di tapal batas Indonesia hanya di Tapal Batas detikcom!
(dnu/tor)