NasDem: Koalisi SBY-Prabowo Tidak Mungkin Terjadi

NasDem: Koalisi SBY-Prabowo Tidak Mungkin Terjadi

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Jumat, 28 Jul 2017 13:53 WIB
NasDem: Koalisi SBY-Prabowo Tidak Mungkin Terjadi
Foto: Dok. Komisi III dari Fraksi NasDem Taufiqulhadi
Jakarta - Pertemuan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semalam menghasilkan kerja sama, tapi bukan dalam bentuk koalisi. Partai NasDem menyebut memang dua ketum partai itu tidak akan pernah bisa berkoalisi.

Anggota Dewan Pakar NasDem Teuku Taufiqulhadi punya alasan koalisi Gerindra-Demokrat tak akan bisa tercapai. Ini menilik dari latar belakang kedua ketua umum partai tersebut.



SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau koalisi tidak mungkin antara Demokrat dengan Gerindra karena keduanya berasal dari militer. Jadi tidak mungkin koalisinya adalah militer dengan militer, kalau menurut saya," ujar Taufiqulhadi saat berbincang, Jumat (28/7/2017).

Taufiqulhadi mengatakan pertemuan dua tokoh nasional tersebut semalam sekadar upaya penjajakan. Namun dia yakin koalisi kedua partai itu tak akan terjadi.

"Ya, menjajaki, barangkali siapa dari mereka yang mau menanggalkan identitas militernya. Siapa saja antara mereka yang menanggalkan identitas militernya, itulah yang dijajaki. Kalau berkoalisi tidak mungkin," ucap Taufiqulhadi.



Anggota Komisi III DPR itu mengatakan ada kecenderungan Demokrat memajukan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam Pilpres 2019. Faktor tersebut menambah peluang koalisi Gerindra-Demokrat tak akan terbentuk. Masyarakat, menurutnya, lebih memilih pasangan dari sipil-militer ketimbang militer-militer sebagai calon presiden mereka.

"Kalau berkoalisi tidak mungkin. Dalam konteks Indonesia, itu adalah presidennya militer, wapres-nya militer, koalisinya kan harus mengarah ke sana nanti. Ya bisa saja, kalau menurut saya bisa (Demokrat memajukan AHY). Sulit, karena tidak akan mendapat sambutan dari masyarakat, dari publik. Kan nggak mungkin," tuturnya.

"Di dalam konteks Indonesia yang ideal itu, satu, pasangannya Jawa-luar Jawa. Kalau misalnya, atau pasangannya sipil dan militer. Itu adalah ideal dalam konteks Indonesia yang sifatnya sangat plural," ucap dia. (gbr/tor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads