"Di seluruh Indonesia ada 600 mantan napi teroris, BNPT tak punya kekuatan tapi Kemensos punya untuk bagaimana menyentuh mereka dengan berbagai kartu," kata Idris saat ditemui di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (26/7/2017).
Idris mengatakan bagi para napi yang masih menghabiskan masa tahanannya di lembaga pemasyarakatan (lapas) juga akan dibina. Pembinaan itu berupa deradikalisasi yang dilakukan di dalam lapas maupun di luar lapas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya pemikiran radikal yang ada pada teroris tidak dapat dihilangkan. BNPT dan Kemensos hanya bertugas sebatas untuk memberikan pembinaan.
"Dalam deradikalisasi, bagaimana menurunkan gaya berpikir yang radikal. Karena tidak mungkin dihilangkan gaya berpikir radikal. Tugas kita hanya menyampaikan, bukan memaksakan," ungkapnya.
Idris mengatakan selain persoalan membina mantan napi teroris, BNPT dan Kemensos akan membina anak-anak yang orang tuanya tersangkut kasus terorisme.
"Kami dengan Kemensos hari ini juga ada rapat untuk memperkuat data untuk anak-anak yang orang tuanya pernah terlibat teroris dan atau ditahan. Kalau dibiarkan, anak-anak itu bisa trauma," ucapnya.
Selain dengan Kemensos, BNPT juga akan bekerja sama dengan 32 kementerian dan lembaga. Kerja sama yang dijalin berupa berbagi informasi, data dan pelibatan pakar dalam bidang agama dan psikologi.
"Semua dan itu sudah dirumuskan 32 kementerian dan lembaga akan bekerja sama dengan BNPT melakukan sharing informasi, data, penguatan kelembagaan, pelibatan pakar pakar, psikologi, agama, kewirausahaan, sosial sejarah," kata dia.
"Bagaimana mereka bisa bekerja sosial agar melatih mereka jangan kosong pikiran kalo kosong pikiran nanti akan jadi teroris," tuturnya. (dhn/dhn)











































