Baik Julianto maupun Dafi sama-sama berasumsi bahwa ada motif asmara di balik 'teror' pesanan Go Food yang dialamatkan ke mereka. Keduanya pernah dimintai salinan KTP oleh Arti yang pada awalnya entah untuk apa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang teman yang bersama Julianto saat ditemui detikcom kemudian bercerita tentang Arti yang kemudian mengunggah KTP Julianto ke media sosial dan menudingnya sebagai penipu. Bahkan Julianto disebut oleh Arti telah kabur dan menghamilinya.
Di sisi lain, Dafi alias Ahmad Maulana (28) juga mengalami hal serupa. Salinan KTP-nya diminta oleh Arti yang kemudian disebar lewat media sosial Instagram dan menyebutnya sebagai penipu.
Julianto dan Dafi sama-sama berkenalan dengan Arti lewat media sosial Facebook. Mereka berkomunikasi lewat media sosial atau pun aplikasi perpesanan lainnya sebelum akhirnya kopi darat.
Memang tak ada penjelasan rinci bagaimana percakapan Julianto dan Dafi dengan Arti sebelumnya hingga asumsi motif asmara muncul. Julianto menuding Arti sebagai peng-order Go Food yang dialamatkan kepadanya karena mengira perempuan itu kecewa setelah cintanya ditolak. Sementara itu Dafi pun menuding Arti juga dengan asumsi yang sama.
detikcom kemudian menyambangi Arti di rumahnya. Arti membantah tudingan kedua pria tersebut.
"Kalau yang itu (order fiktif) enggak. Itu atas nama siapa? Kalau aku ke mana-mana pasti pake akun aku pakai Nama arti atau nomorku. Nomorku juga Indosat sama tri saja, mau di manapun aku selalu pake nama asli. Di FB, email, IG, semua pakai nama 'Arti'," kata dia di kediamannya, Kayu Manis, Jakarta Timur, Sabtu (8/7/2017).
Arti yang merupakan lulusan D3 dari Bina Sarana Informatika (BSI) lalu berbalik menyebut Julianto dan Dafi serius menjalin hubungan dengannya. Arti juga cerita tentang pernikahan pertamanya dengan pria bernama Reza Harlan yang kandas.
Agaknya kasus ini menjadi serius setelah Julianto melaporkan 'peneror' order Go Food itu ke polisi. Kini Polres Jakarta Timur tengah membentuk tim khusus untuk menelusuri kasus yang juga merugikan para driver Go-Jek tersebut.
"Karena identitasnya kan inisial A dan sebagainya, itu persoalannya. Teror ada dua karena ada cinta atau memang jahat. Ini kan segera temuin agar selesai," kata Kapolres Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo saat dihubungi, Sabtu (8/7) malam.
Manajemen Go-Jek mengimbau agar kejadian ini tak terulang kembali. Kejadian ini secara langsung telah merugikan mitranya.
"GO-JEK mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuat order palsu yang bermaksud merugikan mitra driver atau pelanggan lainnya," kata manajemen GO-JEK melalui keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (7/7).











































