Jelajah Maroko: Dari 'Kota Biru' hingga 'Kota Merah'

Nadila Fitria - detikNews
Minggu, 11 Jun 2017 21:42 WIB
Foto: Kota Chefchaouen yang juga dijuluki kota biru di Maroko (Irfan Padli/TRANS7)
Marrakesh - Marhaban bikum fil Maghrib. Selamat datang di Maroko, negeri Maghribi. Negeri terbenamnya matahari.

Negeri Mediterania yang terletak di Afrika utara ini tiada henti memancarkan sinarnya. Jejak sejarahnya yang merekam penguasaan bangsa Arab, Spanyol dan Prancis, menyisakan corak budaya dan tradisi yang memikat. Terlebih pada 'kota biru', Chefchaouen.

Sebuah kota yang terhampar di Pegunungan Rif, barat laut Maroko. Chefchaouen sempat berada di bawah kekuasaan Spanyol pada tahun 1920. Kota ini memang berdekatan dengan Tangier, serambi Maroko yang hanya dipisahkan oleh Selat Gibraltar dengan Spanyol.

Jelajah Maroko: Dari 'Kota Biru' hingga 'Kota Merah'Foto: Baju tradisional Chefcaouen, kental dengan pengaruh Spanyol (Irfan Padli/TRANS7)


Jika bangunan-bangunan Santorini di Yunani dan Sidi Bou Said di Tunisia berselimutkan warna putih, Chefchaouen, memberikan nuansa yang berbeda. Di Maroko, umumnya masyarakat bisa berbicara dalam bahasa Arab, Darija, dan atau Prancis.

Jelajah Maroko: Dari 'Kota Biru' hingga 'Kota Merah'Foto: Kota Chefchaouen yang juga dijuluki kota biru di Maroko (Irfan Padli/TRANS7)


Uniknya, di Chefchaouen, karena dekat dan sempat berinteraksi dengan Spanyol pada Abad ke-15, masyarakatnya lebih mahir berbahasa Spanyol dan Arab ketimbang Prancis.

Menurut beberapa catatan sejarah, warna biru pada Kota Chefchaouen ini merupakan sisa sejarah Abad ke-15. Saat para pengungsi Yahudi lari dari penguasaan Spanyol dan menetap di Chefchaouen. Mereka membawa tradisi mewarnai semua barang dengan warna biru, untuk menyamakan dengan langit dan mengingatkan mereka pada Tuhan.

Kota Chefchaouen berkonsep kota tua, atau madinah qodimah. Sehingga untuk mengelilingi Kota Chefchaouen, Anda hanya bisa bersepeda atau berjalan kaki saja. Penghasilan utama masyarakat Chefchaouen bergantung pada wisata dan pertanian.

Jelajah Maroko: Dari 'Kota Biru' hingga 'Kota Merah'Foto: Kota Chefchaouen yang juga dijuluki kota biru di Maroko (Irfan Padli/TRANS7)


Chefchaouen sudah menjadi tujuan turis dunia di Maroko, selain Casablanca dan Marrakesh. Selain keunikan bangunan, ada pula yang menarik perhatian yaitu cara mereka berpakaian, khususnya para pria.

Kaum lelaki di Chefchaouen setiap harinya menggunakan jubah yang dikenal dengan nama djellaba. Djellaba, juga menjadi ciri khas dari Chefchaouen.

Jubah panjang hangat yang setiap saat dikenakan untuk melindungi tubuh dari udara dingin menusuk, dan angin gurun yang kencang. Djellaba pada awalnya dibuat khusus sebagai pakaian bertarung. Untuk memudahkan pergerakan, djellaba kemudian dibuat lebih pendek dengan ukuran yang lebih besar. Kini, djellaba menjadi pakaian sehari-hari, bahkan untuk pergi ke masjid.

Jelajah Maroko: Dari 'Kota Biru' hingga 'Kota Merah'Foto: Membuat djellaba, jubah khas untuk laki-laki di Chefchaouen (Irfan Padli/TRANS7)


Djellaba khas Chefchaouen dibuat secara tradisional menggunakan alat pemintal. Layaknya kerajinan tenun di Indonesia. Djellaba, yang menjadi ciri khas Chefchaouen wajib masuk ke daftar oleh-oleh Anda saat bertandang ke Maroko.

Chefchaouen, kota cantik yang menjadi pembuka perjalanan di Jazirah Islam kali ini, sungguh meninggalkan kesan.

Eksotisme 'Kota Merah'

Dari Chefchaouen yang serba biru menuju Marrakesh, yang juga memiliki julukan madinatul hamro alias kota merah.

Sebutan kota merah ini lantaran banyak bangunannya berwarna merah terakota. Kota terbesar ke empat di Maroko ini adalah kota yang sangat aktif.

Hiruk pikuk kota bisa anda nikmati di atas delman yang disewakan oleh penduduk lokal. Anda akan diantar berkeliling, mulai dari masjid dari Abad ke-11, Al Koutubiya, hingga turun di Jemaa el-Fnaa.

Jelajah Maroko: Dari 'Kota Biru' hingga 'Kota Merah'Foto: Marrakesh, kota terbesar keempat di Maroko (Irfan Padli/TRANS7)


Jemaa el-Fnaa adalah alun-alun yang terkenal di Afrika. Jemaa el Fnaa bahkan punya julukan "tempat berkumpulnya orang seberang". Di sini, segala yang menjadi khas Maroko tumpah ruah. Mulai dari suvenir, bumbu dapur, hingga kulinernya.

Ditemani seorang blogger Maroko, Amanda, Tim Jazirah Islam akan mencari wisata kuliner otentik khas Maroko. Bukan rahasia lagi, alun-alun Jemaa el Fnaa adalah tempat favorit turis, untuk mencoba makanan khas Maroko.

Jelajah Maroko: Dari 'Kota Biru' hingga 'Kota Merah'Foto: Alun-alun Jemaa el-Fnaa, tempat yang selalu dikunjungi turis untuk mencari kuliner khas Maroko (Irfan Padli/TRANS7)



Tapi, Amanda justru membawa tim Jazirah Islam masuk ke dalam pasar untuk mencari rasa rahasia. Sebagai seorang blogger dari Maroko, muslimah berdarah Amerika ini mengenal betul setiap seluk beluk Jemaa el Fnaa. Ia menulis banyak hal tentang Maroko untuk turis di blognya, marocmama.com.

Tujuan pertama adalah menemukan tangia. Makanan khas Maroko dari daging kambing. Tangia adalah salah satu menu otentik dari Maroko. Daging kambing dimasak selama satu hari di dalam tanah dengan menggunakan pot gerabah.

Tangia sudah dicoba. Selanjutnya, Amanda mengajak untuk mampir ke toko favoritnya, kios zaitun. Zaitun wajib ada di meja makan orang Maroko. Biasanya mereka menyajikannya dalam bentuk acar seperti ini.

Jelajah Maroko: Dari 'Kota Biru' hingga 'Kota Merah'Foto: Bersama seorang food blogger asal Maroko, Amanda (kanan) (Irfan Padli/TRANS7)


Acar zaitun bisa dimakan langsung atau digunakan sebagai bahan masakan. Zaitun memang mengandung banyak sekali nutrisi. Selain vitamin E yang tinggi, buah zaitun juga dipercaya dapat mencegah penyakit kanker.

Masih belum puas, kami pun mampir ke satu kios untuk menemukan dessert atau makanan penutup.

Walaupun Maroko ada di tanah Afrika, namun karena cukup lama bersentuhan dengan Prancis, tak heran cara makan pun mirip dengan orang Eropa. Setelah makan berat, wajib ditutup dengan menu yang manis. Kali ini ada speccoek dan za'za' dalam menu.

Jelajah Maroko: Dari 'Kota Biru' hingga 'Kota Merah'Foto: Speccoec dan za'za', dessert khas Maroko (Irfan Padli/TRANS7)


Semakin sore, Jemaa el Fnaa akan semakin ramai, dengan pengunjung dan atraksi di pasar. Marrakesh, si kota merah, mengantar mengenal lebih dekat budaya serta tradisi dari Maroko. Negeri maghrib, yang tak henti-hentinya memberikan kejutan.

Saksikan kisah lengkap menjelajah bumi Maroko dalam program "Jazirah Islam" di TRANS7 pada Senin, 12 Juni 2017 pukul 15.00 WIB. (nwk/nwk)