DetikNews
Minggu 11 Juni 2017, 20:37 WIB

Menteri Jonan Dicurhati Para Pengamat Gunung Api

Bagus Kurniawan - detikNews
Menteri Jonan Dicurhati Para Pengamat Gunung Api Menteri ESDM Ignasius Jonan (Foto: Michael Agustinus/detikFinance)
Yogyakarta - Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan bertemu dengan 44 pengamat gunung api seluruh Indonesia. Mereka curhat mengenai minimnya biaya perawatan untuk berbagai peralatan hingga masalah gaji atau kesejahteraan.

Mereka bertugas mengamati gunung api setiap hari di pos-pos pengamatan dan rela berpisah jauh dengan anggota keluarganya. Tugas utama sebagai garda terdepan pengamat gunung lebih banyak tercurahkan dibandingkan keluarganya.

Hal itu terungkap saat temu wicara Menteri ESDM Ignasius Jonan bersama 44 orang wakil pengamat gunung seluruh Indonesia. Mereka mewakili Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Total seluruh Indonesia ada 76 pos pengamatan gunung api dengan 208 orang pengamat.

Dano Lamane petugas pengamat Gunung Gamalama Maluku Utara mengungkapkan perlunya penambahan personil pengamat gunung seperti di wilayah Maluku yang dinilai masih kurang.

Dia mengaku sebulan sekali pulang ke rumah untuk bertemu keluarga yang harus ditempung menggunakan kapal laut.

"Kami ingin ada prioritas penambahan personil pengamat gunung. Terima kasih gaji dan kesejahteraan ditingkatkan," katanya.

Hal senada juga diungkapkan Surip pengamat Gunung Dieng yang ada diperbatasan Wonosobo dan Banjarnegara Jawa Tengah. Sebagai pengamat di Gunung Dieng, apa yang dikerjakan berbeda dengan pengamat gunung lainnya. Gas di Dieng sudah banyak memakan korban.

"Yang saya amati lain, musuhnya gas beracun, butuh keberanian dan risiko tinggi, tidak kelihatan," katanya.

Menurutnya untuk mengecek gas beracun dengan jarak dekat 1 meter hingga 25 meter. Sementara itu gas CO2 tidak berbau, tidak berwarna, tidak terasa.

Sementara itu Sevrianus pengamat Gunung Talang di Solok, Sumatera Barat mengungkapkan perlunya peningkatan atau tambahan biaya operasional untuk perawatan berbagai peralatan pemantauan gunung. Alat-alat tersebut sangat mahal harganya dan butuh biaya besar.

Menanggapi semua yang diungkapkan peserta, Jonan meminta Badan Geologi untuk menambah biaya perawatan alat hingga peningkatan kesejahteraan mereka.

"Mereka ini semua ujung tombak mitigasi bencana, harus diperhatikan," kata Jonan.

Menurutnya kemampuan dan peran pengamat sangat vital dalam mengamati aktivitas gunung api se-Indonesia.

"Mereka itu adalah pos terdepan untuk melayani masyarakat dan berinteraksi dengan masyarakat. Semua yang kita kerjakan harus segera disampaikan masyarakat," katanya.

Dia berharap adanya pertemuan ini ada banyak masukan dari pengamat yang sebagai garda terdepan dalam melakukan pengamatan. Kemampuan mereka sangat penting dalam melakukan mitigasi bencana.

"Harus ada perbaikan layanan. Ke depan juga ada kerjasama dengan BNPB untuk sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat agar tidak membingungkan," katanya.

Turut hadir dalam acara itu Kepala PVMBG, Kasbani, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Ego Syahrial dan Kepala BPPTKG IGMA Nandaka.



(bgk/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed