"Terkait dengan istigasah apa yang bisa ibu ceritakan?" tanya jaksa dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (31/5/2017).
Atut bercerita, istigasah itu digelar sekitar tanggal 4 Oktober, malam di mana Tubagus Chairi Wardana ditangkap KPK. Istigasah tersebut disebut Atut sudah lama direncanakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Atut, ustaz yang hadir saat itu adalah Ustaz Haryono. Usai istigasah kemudian Ustaz Haryono meminta bertemu Atut sampai lebih dari 3 kali. Namun berdasarkan pengakuan Atut, ia selalu menolaknya.
"Tidak lama Risa menyampaikan kepada saya permintaan ketemu dari Ustaz Haryono. Saya tidak mau, karena saya dalam kondisi sedang berduka saat itu. Satu kali, dua kali, berikutnya lagi, akhirnya saya sampaikan kamu saja yang menemui ada apa," tutur Atut.
Atut tak menjelaskan siapa Risa yang dimaksud. Hanya saja saat itu Risa melaporkan Ustaz Haryono meminta dilaksanakan istigasah di rumahnya.
"Saya katakan bahwa Risa ibu tuh tidak mungkin memikirkan uang, kalau mau mendoakan ya doakan saja. Ibu sekarang lagi stres. Risa mengatakan kalau begitu bu, saya akan menelepon Pak Sekda. Sebetulnya saja tidak menginstruksikan tapi saya juga tidak melarang," tutur Atut.
"Saya tidak berpikir bahwa itu akan menjadi persoalan meminta kepada para Kepala Dinas. Dalam benak saya apakah ada program di Kesra yaitu untuk kegiatan keagamaan. Oleh karena itu saya tidak melarang meskipun saya tidak menginstruksikan. Bukan saya tidak berminat didoakan, tapi saya tidak berminat membayar pada saat itu," jelasnya.
Baca juga: Ratu Atut Juga Didakwa Peras Bawahan untuk Dana Istigasah
Jaksa lantas bertanya, apakah pada akhirnya permintaan Haryono sebesar Rp 495 juta itu dipenuhi atau tidak.
"Saya tidak tahu. Saya tahu dari Kepala Dinas setelah saya diperiksa penyidik. Jadi saya betul-betul gelap, karena saya sudah dalam kondisi stres. Setelah saya diperiksa oleh penyidik menyatakan bahwa itu sumbernya dari Dinkes Rp 100 juta dan sisanya penyidik menyampaikan, iuran. Seperti itu, jadi saya tidak tahu lagi," terang Atut. (rna/fdn)











































