Rosidah (80), nenek AS terduga pelaku teror di Kampung Melayu Jakarta mengaku kaget banyak aparat kepolisian yang menanyakan cucunya. Dia berharap cucunya itu baik-baik saja.
Oleh Rosidah, AS dikenal sebagai sosok yang saleh dan rajin beribadah. Dia mengaku cucunya jarang menghubungi keluarga di Bandung semenjak pindah ke Garut bersama dua anak dan isterinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rosidah mengaku khawatir dengan masalah yang menimpa cucunya tersebut. "Tidak bisa makan, kepikiran terus," tambahnya.
Melihat keresahan Rosidah, paman AS, Mulyana (35) mencoba menenangkan keresahan Rosidah. "Tenang mak, ini baru dugaan. Informasi jelasnya belum keluar dari kepolisian. Sabar, hayu makan dulu," ujar Mulyana.
Meski sudah ditenangkan oleh Mulyana, Rosidah keukeuh tidak ingin makan. "Yuk mak, makan dulu, nanti sakit," bujuk Mulyana.
Letak rumah AS berada di dekat kawasan Bedung Saguling, Kabupaten Bandung Barat. Butuh sekitar 3-4 jam perjalanan dari pusat Ibukota Jawa Barat, Kota Bandung untuk sampai ke rumah AS.
Rumah AS berada di dalam perkampungan, masuk ke sebuah gang kecil dan jalan setapak. Lima bulan lalu, sebelum kepindahannya ke Garut, di rumah yang didominasi cat berwarna putih itu dan dipasangi garis polisi, AS tinggal.
AS tinggal bersama ibunya berinisial EN. Mendapati kabar tersebut, ibu AS diperiksa dijemput pihak kepolisian untuk dilakukan tes DNA.
Dari pantauan detikcom sejak dipasang garis polisi, hingga sore ini, rumah pelaku nampak sepi dan warga sekitar tidak berani untuk mendekat ke rumah tersebut.
(err/try)










































