"Jangan samakan Jateng dengan Jakarta, yang rakyatnya terbelah gara-gara isu SARA terbawa dalam Pilkada. Saya yakin Pilgub Jateng mendatang akan lebih damai, guyub rukun dan rakyat yang juara. Kearifan lokal yang ada di Jateng menjadi benteng menyikapi perbedaan kecil saat Pilgub 2018 mendatang," kata Musthofa, Kamis (18/5/2017).
Soal wilayah yang dipimpinnya, Musthofa mengatakan masyarakat Kudus sangat menghargai perbedaan. Ia menceritakan kebiasaan masyarakat Kudus yang lebih memilih mengonsumsi daging kerbau ketimbang sapi lantaran patuh pada anjuran Sunan Kudus agar menghormati masyarakat Hindu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Menara Masjid Kudus yang merupakan menara masjid tertua di Jawa juga berbentuk candi sebagai bentuk asimilasi budaya di masa lalu. Bahkan di depan Masjid Kudus terdapat Klenteng tempat ibadah kawan-kawan yang beragama Budha. Semuanya berbaur dengan rukun selama ratusan tahun," sambungnya.
Foto: dok. Istimewa |
Ia menambahkan, ketegangan dalam Pilkada bisa diredam jika masing-masing calon punya niatan baik. Jangan halalkan segala cara, utamakan persatuan bangsa.
"Kalau mau jadi Gubernur Jateng, jangan bernafsu mencari kekuasaan. Tapi hati harus tulus mengabdi pada masyarakat. Sehingga tim suksesnya tidak akan menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan," ujar Musthofa.
Soal perkembangan dukungan terhadap dirinya untuk maju sebagai calon gubernur dari PDIP, Musthofa menjawab diplomatis. "Saat ini saya fokus menyelesaikan masa tugas sebagai bupati. Urusan Pilgub Jateng saya serahkan pada partai dan Ibu Ketua Umum. Sebagai kader saya patuh sepenuhnya pada aturan organisasi," tutupnya.
Meski memiliki incumbent Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, namun PDIP belum memutuskan calon yang akan diusung di Pilgub Jateng 2018. Ganjar masih mendapat dukungan dari sejumlah elite PDIP Jateng, namun muncul juga kandidat lainnya. Bupati Kudus Musthofa sendiri disorongkan maju ke Pilgub Jateng 2018 oleh DPC PDIP Kudus. (tor/fjp)











































Foto: dok. Istimewa