Tentara sinyal ini bukanlah tentara militer sungguhan, namun merupakan karyawan Telkomsel yang ditempatkan di perbatasan negara. Sabtu, 1 April 2017, detikcom menemui mereka di Atambua.
Mereka adalah Manager Branch Telkomsel Kupang Dhody Irawan Wijaya (35), bapak dua anak asal Tangerang Selatan. Manager Network Service Area Kupang, Zaki Fithra (35), bapak dua anak dari Surabaya. Staf Telkomsel di Atambua, Petra Radityo Nugroho (26), pria lajang asal Bekasi. Ada pula Manager Media Relations Aldin Hasyim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Paling banyak info dari tentara, misalnya mereka bilang, 'Mas, di sini tidak ada sinyal.' Terus kita cek," kata Petra.
Mereka kemudian akan mengecek ketersediaan listrik, potensi pengguna sinyal selular, dan infrastruktur di sekitar lokasi. Bila semua faktor itu mendukung, maka mereka akan mengajukan usulan proyek menara BTS ke kantor pusat. Bila tidak, mereka akan membawa BTS mobile ke lokasi tanpa sinyal itu. Membawa BTS mobile ke pelosok juga bukan pekerjaan yang mudah.
"Medan di sini sungguh ekstrem," ucapnya usai menyeruput kopi.
Foto: Grandyos Zafna |
Mereka juga akan mengerahkan petugas ahli untuk mengubah-suaikan pancaran sinyal dari BTS. Menara BTS yang tinggi dan berangin bakal dipanjat, dengan peralatan yang menjamin keselamatan tentunya.
Zaki menjelaskan, karyawan-karyawan di pelosok seperti dirinya harus selalu siap siaga, kapanpun. Segala keluhan dari pelanggan harus segera ditindaklanjuti bahkan pada malam hari yang gelap di daerah terpencil.
"Bila ada gangguan, dalam jangka waktu kurang dari empat jam harus bisa diperbaiki. Walau malam hari kami tetap menuju lokasi yang gangguan," kata Zaki.
Foto: Grandyos Zafna |
Perjalanan malam hari bukan tanpa risiko. Rekannya bahkan pernah dimintai uang secara paksa oleh orang di tengah jalan. Bila menghadapi situasi seperti ini, petugas harus mencari aman.
"Dicegat preman minta duit. Kalau kita nggak ngasih duit, mobil kita dilempari. Itu di kawasan Kabupaten Malaka terjadi," kata Zaki.
Telkomsel mendominasi sinyal Indonesia di kawasan tedepan. Mereka punya 1.056 menara BTS di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di Kabupaten Belu, ada 80 menara, plus lima BTS Merah Putih milik pemerintah yang dioperasikan Telkomsel.
Foto: Grandyos Zafna |
BTS-BTS ini bukannya selalu dalam keadaan aman tanpa kena ulah tangan jahil. Bahkan, kata Zaki, pencurian komponen BTS juga kerap terjadi.
"Biasanya baterainya dicuri. Bagian dalam baterai itu katanya bisa dibuat kerajinan tangan. Ada pula kabel grounding berbahan tembaga dan alumunium juga sering kecurian," tuturnya.
Sebagai orang yang bukan berasal dari Kabupaten Belu, tentu saja mereka merasa rindu dengan keluarga di Pulau Jawa. Namun karena video call bisa dilakukan dengan sinyal mereka sendiri, maka kerinduan mereka dengan keluarga di rumah bisa sedikit terobati.
Foto: Grandyos Zafna |
Dhody menceritakan biaya hidup di Belu cukup tinggi. Air mineral dijual Rp 40 ribu per galon, pecel ayam dijual Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per porsi. Di tempat asalnya, semua itu bisa didapatkannya dengan harga yang lebih murah.
"Itu semua dukanya. Kalau sukanya ya saya jadi tahu bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta saja, bukan hanya Jawa saja. Indonesia ini harus dibangun, kalau bukan kita maka siapa lagi?" imbuh Petra.
Juga, mereka bisa sekalian merasakan piknik di tempat-tempat yang jauh dari kampung halaman. Yang terpenting, mereka senang bisa ikut menjaga kedaulatan negara di kawasan terdepan.
"Ada tiga tujuan utama Telkomsel di sini. Pertama aspek bisnis. Kedua, aspek ekonomis, namun bila ada wilayah yang belum tercakup maka kita akan pasang BTS meski belum menguntungkan secara bisnis bagi kita. Ketiga, ini penanda kedaulatan negara. Tujuan ketiga ini tak ada untung bisnisnya, tapi ini komitmen kami menjaga perbatasan mendukung Nawacita membangun dari Pinggiran," kata Manager Media Relations Telkomsel, Aldin Hasyim.
Kini Belu tetap diprioritaskan Telkomsel untuk terus dikembangkan. Soalnya belum semua titik pos batas negara sudah tercakup oleh sinyal Telkomsel. "Itu jadi prioritas kami," kata Dodi.
Foto: Grandyos Zafna |
Saat kami berkunjung ke Kabupaten Belu perbatasan Republik Indonesia dengan Republik Demokratik Timor Leste, 29 Maret sampai 3 April, Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) dipegang oleh Batalyon Infanteri Raider 641/Beruang. Komandan Satgas Pamtas saat itu dijabat Letkol Inf Wisnu Herlambang. Dia merasakan kehadiran Telkomsel di kawasan terdepan sungguh membantu kerja-kerja mereka.
"Sinyal Telkomsel bagi Pamtas itu vital, berkaitan dengan pelaporan cepat yang dilengkapi dengan dokumentasi foto atau video. Contoh kasus saat Danrem rapat di Mabes TNI (Jakarta), beliau meminta laporan foto pos-pos Pamtas sehingga pimpinan rapat dapat langsung memberikan keputusan setelah melihat foto, real time," tutur Wisnu Herlambang kepada detikcom.
Simak terus cerita tentang daerah terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com! (dnu/tor)












































Foto: Grandyos Zafna
Foto: Grandyos Zafna
Foto: Grandyos Zafna
Foto: Grandyos Zafna
Foto: Grandyos Zafna