Massa Pendemo KAA Tinggalkan Istiqlal Menuju Kedubes AS
Sabtu, 23 Apr 2005 10:44 WIB
Jakarta - Setelah melalui perundingan alot dengan pihak kepolisian, akhirnya seribu massa demonstran penentang KAA diperbolehkan melakukan aksi ke Kedubes AS. Namun, niat untuk demo di Bundaran HI tetap tidak diperbolehkan, sehingga aksi beralih ke Tugu Proklamasi.Ratusan massa ini keluar dari parkiran Masjid Istiqlal sekitar pukul 10.30 Wib dengan pengawalan ketat petugas kepolisian. Mereka diperbolehkan melakukan aksi ke Kedubes setelah terjadi negosiasi antara kordinator aksi dari Persatuan Rakyat Anti Imperialisme (Perisai) dengan Kapolres Jakarta Pusat AKBP Sukrawardi Dahlan."Sebetulnya masih banyak massa yang tertahan masuk Jakarta dari berbagai daerah. Seperti Tasikmalaya, Garut dan Ciamis, mereka dertahan di beberapa tempat, sehingga tidak bisa masuk Jakarta," kata juru bicara Perisai, Irvan di Komplek Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (23/4/2005).Perisai merupakan gabungan dari 63 NGO buruh, LSM, mahasiswa dan lainnya yang menolak semua bentuk imperialisme. Mereka membawa spanduk bertuliskan SBY-Kalla boneka Amerika, SBY Kalla mengkhianati semangat KAA 55, SBY Kalla kaki tangan Amerika dan lain-lain. KAA TandinganSebelumnya, Perisai sempat mengadakan pertemuan "tandingan" KTT Asia-Afrika di Bandung. Pertemuan ini dihadiri 28 negara, diantaranya dari Filipina, Malaysia, Indonesia, India, Srilangka, Palestina, Australia, dan Kanada.Dari pertemuan "tandingan" KTT Asia-Afrika itu menghasilkan 5 butir. Diantaranya menolak intervensi militer oleh kekuatan barat, khususnya AS yang menyerang negara-negara berdaulat dengan mengatasnamakan perang melawan terorisme.Menolak kebijakan ekonomi internasional yang mengeksploitasi rakyat dan sumber daya alam di negara-negara miskin menuntut pembatalan hutang. Melaksanakan land reform yang kompehensif dan berkomitmen untuk melakukan perundingan damai dan mengakhiri konflik-konflik.Memutuskan kerjasama dari lembaga-lembaga finacial dan perdagangan yang tidak demokratis seperti World Bank, IMF, WTO. Dan menuntut kepada kepala negara Asia Afrika untuk melakukan reformasi fundamental serta dilakukannya demoktratisasi di PBB."Kelima butir ini yang akan kita suarakan lagi di Jakarta. KTT Asia Afrika harus mengagendakan penghapusan kemiskinan secara serius," kata Novi koordinator Perisai yang juga tergabung ke dalam LSM Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA).
(jon/)











































