Siswa Difabel di Palembang Lakukan UN Berbasis Kertas

Siswa Difabel di Palembang Lakukan UN Berbasis Kertas

Raja Adil Siregar - detikNews
Senin, 10 Apr 2017 14:08 WIB
Siswa Difabel di Palembang Lakukan UN Berbasis Kertas
Foto: Pelaksanaan UN bagi difabel di Palembang (Raja-detikcom)
Jakarta - Tiga siswa berkebutuhan khusus mengikuti Ujian Nasional (UN) di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Palembang. Ketiganya melaksanakan Ujian Nasional Paper Based Test (UNPBT) di hari pertama, Senin (10/04/2017) karena mengalami tuna rungu.

Menurut Kepala SLB-B Pembina Kota Palembang, ketiga siswa yang mengikuti UN telah sesuai standarisasi pemerintah, mengingat ketiganya memiliki kemampuan setara dengan siswa di sekolah pada umumnya. Hanya saja tidak dapat mendengar dan berbicara.

"Tiga siswa ini kemampuan IQ sama dengan siswa di sekolah reguler, jadi kita daftarkan ikut UNPBT. Soal-soal sendiri dibuat oleh Pusmendik, berbeda dengan 10 siswa Tuna Grahita, " ujar Jumingan, saat memantau pelaksanaan ujian di SLB-B Pembina jalan Kebun Bunga Kota Palembang, Senin (10/04/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumingan mengatakan, untuk ketiga siswa kelas XII yang melaksanakan UN tidak ada kendala berarti pada saat pelaksanaan ujian. Kecuali 10 siswa yang masuk kelas C, hal ini dikarenakan mereka secara intelejensinya memang kurang atau IQ-nya di bawah 80, sehingga harus mendapatkan bimbingan oleh pengawas dan soal ujian yang di buat oleh pihak sekolah.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Widodo saat meninjau pelaksanaan ujian mengatakan, untuk pelaksanaan UN di Sumatera Selatan berjalan dengan baik dan mengalami peningkatan. Di mana pada tahun ini ada sekitar 34.182 siswa SMA yang melaksanakan UNBK dari total 61.068 siswa. Sementara untuk siswa SMK ada 24.223 siswa dari total 25.814 siswa.

"Tahun ini ada 56 persen siswa tingkat SMA yang melaksanakan UNBK dan 93 persen dari siswa tingkat SMK. Sehingga dengan UNBK ini akan meminimalisir terjadinya kecurangan," ujar Widodo.

Dia berharap, untuk tahun depan lebih banyak lagi sekolah yang dapat melaksanakan ujian berbasis komputer. Terutama untuk sekolah yang telah memiliki fasilitas lengkap, baik komputer dan fasilitas kelistrikan. Namun, untuk sekolah yang masih belum lengkap sarana dan prasarananya dapat menunggu dan tidak memaksakan. (rvk/idh)


Berita Terkait