DetikNews
Kamis 06 April 2017, 20:40 WIB

Buat Perhiasan Sejak Zaman Es, Nenek Moyang Nusantara Kreatif

Nograhany Widhi K - detikNews
Buat Perhiasan Sejak Zaman Es, Nenek Moyang Nusantara Kreatif Artefak perhiasan dari tulang belulang hewan ditemukan di Sulawesi, yang diperkirakan berasal dari Zaman Es. (M Langley; A Brumm via Live Science)
Jakarta - Para ilmuwan menemukan artefak perhiasan dari Zaman Es yang ditemukan di Leang Bulu Bettue, Sulawesi Selatan. Hal ini menunjukkan nenek moyang Nusantara kreatif.

Selain ditemukan perhiasan berupa liontin dari tulang jari hewan kuskus dan kalung manik-manik dari irisan melintang taring babirusa yang dilubangi tengahnya, ditemukan ornamen batu bertulis dan teknik pewarnaan di Leang Batulu Bettue.

(Baca juga: Riset: Zaman Es, Nenek Moyang Orang Indonesia Sudah Buat Perhiasan)

Penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal yang berjudul "Early human symbolic behavior in the Late Pleistocene of Wallacea" yang dipublikasikan di situs Proceedings of The National Academy of Sciences of The United States of America (PNAS), pnas.org, yang diterbitkan pada 3 April 2017.

Ada 4 batu pipih dengan ukiran sederhana membentuk pola ukiran geometri sederhana. Usia batu pipih ini tidak disebutkan dalam penelitian tersebut, namun diduga kuat berasal dari Zaman Es.

Buat Perhiasan Sejak Zaman Es, Nenek Moyang Nusantara KreatifBukti batu berukir motif geometri sederhana yang ditemukan di Leang Bulu Bettue (Adam Brumm dkk via pnas.org)


Ini merupakan bukti batu berukir yang ditemukan di kawasan Garis Wallace. Praktik mengukir batu dengan pola abstrak pada Zaman Es ini sebenarnya terbilang langka di dunia.

Contoh terdekat di Asia Tenggara, batu berukir dengan motif garis-garis itu sebelumnya ditemukan di China pada 2012 dengan usia batu 30 ribu tahun dan di Goa Xom Trai Vietnam pada 2015 berusia 22-19 ribu tahun. Artefak serupa pernah ditemukan di Prancis dan Texas, AS.

Selain batu pipih berukir, para ilmuwan menemukan ternyata pada Zaman Es sudah ada teknik pewarnaan di Leang Bulu Bettue. Beberapa artefak ditemukan berwarna merah dan murbei. Ditemukan juga 4 bintil berwarna ochre (warna kuning alami yang mengandung mineral) yang menunjukkan jejak pemanfaatan dengan menggiling dan menggosok di permukaan yang lembut, seperti kulit hewan.

Analisis komposisi pendahuluan menggunakan X-ray fluorescence (pXRF) portabel menunjukkan warna mineral alami itu juga digunakan untuk lukisan batu di Zaman Es, yang sebelumnya ditemukan di sekitar Leang Bulu Bettue.

Buat Perhiasan Sejak Zaman Es, Nenek Moyang Nusantara KreatifBukti artefak yang menunjukkan teknik pewarnaan sederhana yang ditemukan di Leang Bulu Bettue (Adam Brumm dkk via pnas.org)


Ditemukan juga artefak tulang panjang yang berongga di tengahnya dari hewan kuskus. Ditemukan jejak warna merah dan hitam dalam tulang ini. Merujuk temuan serupa di Eropa, fungsi tulang ini diduga sebagai pipa penyemprot warna.

Para ilmuwan itu membandingkan dengan bukti arkeologi dari Zaman Es yang terdokumentasikan sebelumnya, yakni artefak berwarna merah ochre yang digali dari Leang Burung 2 dan serpihan residu ochre dari Leang Sakapo yang berusia 30-20 ribu tahun.

Indikasi warna di Leang Bulu Bettue ini konsisten dengan motif lukisan tertua berusia 39,9 ribu tahun yang ditemukan di Maros-Pangkep. Ada lapisan warna yang berusia 26-22 ribu tahun yang juga konsisten dengan lukisan tangan yang ditemukan di karst Maros-Pangkep yang berusia 27,2-22,9 ribu tahun.

Bukti usia warna yang termuda dan tertua itu dikonfirmasi sebagai masa ketika tradisi lukisan di bebatuan gua pada Zaman Es di Sulawesi.

Disebutkan dalam bagian abstrak jurnal ini bahwa bukti artefak yang ditemukan tersebut memberikan wawasan ke dalam kompleksitas dan diversifikasi budaya manusia modern selama periode kunci penyebaran global spesies manusia.

Hal ini juga menunjukkan penduduk awal Sulawesi kuno membuat ornamen dari bagian tubuh hewan yang endemik (yang hanya hidup di daerah itu). Sekitar 92% mamalia di Sulawesi adalah hewan endemik. Bukti ini menunjukkan terintegrasinya manusia modern dengan hewan dan sumber daya baru ke dunia simbolik mereka saat menduduki wilayah biogeografis yang unik di tenggara benua Eurasia itu (wilayah Garis Wallace).

"Saat manusia modern menempati wilayah Garis Wallace, mereka mungkin mulai mengembangkan tradisi berupa ekspresi kreatif yang penting yang beragam dan baru sebagai organisme endemik yang menempati wilayah ini. Jika benar demikian, kami berharap menemukan pola regional yang jadi simbol di masa Pleistosen (Zaman Es) yang digunakan lebih berbeda, kompleks, dan variabel lain dari yang diasumsikan sebenarnya," demikian kalimat penutup jurnal itu.
(nwk/try)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed