Ali Masykur Musa Tolak Duduk di DPP PKB
Kamis, 21 Apr 2005 13:37 WIB
Jakarta - DPP PKB siap-siap saja diisi orang-orang tidak terkenal. Sejumlah tokoh masyhur PKB menolak duduk di DPP PKB, termasuk Ali Masykur Musa. Ada apa? Ali Masykur mengaku sudah tidak tertarik duduk di kepengurusan DPP PKB 2005-2010 yang kini dipimpin Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai ketua umum tanfidz. Bagi Ali, lebih enak menjadi anggota PKB biasa saja. "Saya lebih ingin menjadi anggota biasa. Menjadi anggota biasa tak kalah hormat dengan DPP. Saya akan tetap mengembangkan dan membesarkan PKB," kata Ali saat dihubungi detikcom, Kamis (21/4/2005). Kegundahan apa yang ada di benak Ali sehingga tidak mau duduk di DPP? Ini terkait dengan proses muktamar II PKB yang berlangsung di Semarang beberapa hari lalu. Ali menyebut proses muktamar tidak demokratis. "Bagaimana kita mengembangkan demokrasi, kalau aturan yang dibuat sendiri tidak dijalankan secara demokratis?" ungkapnya. Hal inilah yang memotivasi mantan ketua umum PB PMII ini untuk tetap mengembangkan demokrasi dan PKB, meski hanya menjadi anggota biasa. Saat ditanya, apakah proses tidak demokratis itu terjadi saat Gus Dur ditetapkan sebagai ketua Dewan Syuro secara aklamasi, Ali tidak membantah. Hasil muktamar PKB di Semarang tidak memperlihatkan keberagaman dan malah membunuh kelompok yang berpandangan berbeda. Dengan sikap menolak duduk di DPP, bukan berarti Ali Masykur akan keluar dari PKB. Dia justru masih cinta dengan PKB. "Saya tidak pernah berfikir untuk keluar atau pindah ke partai lain," ungkap politisi yang kini menjadi Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR ini. Ali tidak khawatir dengan nasib PKB di masa mendatang, bila kader-kader PKB yang populer tidak duduk di DPP. Bagi dia, ini malah merupakan kesempatan untuk DPP melakukan kaderisasi dan regenerasi. "Masih banyak tokoh berkualitas di PKB. Ini juga kesempatan bagi generasi muda untuk duduk di PKB," tegasnya. Tentang hubungannya dengan Gus Dur dan Cak Imin, Ali mengaku tetap akan jalan seperti biasa. Tidak terpengaruh dengan hal ini. "Rasa hormat saya kepada Gus Dur dan rasa persaudaraan kepada Muhaimin tidak terhalangi, meski saya hanya anggota biasa," ungkapnya. Di mata Ali, Gus Dur merupakan guru. Dari Gus Dur-lah, Ali mendapatkan pelajaran demokrasi. Salah satu demokrasi yang diajarkan Gus Dur adalah keberagaman dalam berpendapat. "Karena itu, dari pelajaran yang diajarkan Gus Dur itulah, membuat kami akhirnya memilih jalan berbeda," sindir Ali. Ketika ditanya mengenai sikap kader-kader PKB lain, seperti Mahfud MD dan Khofifah Indar Parawansa yang bersikap sama dengan dirinya, Ali menyatakan, itu merupakan refleksi secara personal. Tidak ada kesengajaan untuk bersikap bersama-sama. "Kalau ada yang mempertemukan, itu juga karena kita sama-sama memperhatikan proses demokrasi di muktamar," jelasnya. Tidak takut diberi sanksi Gus Dur dan Cak Imin atas sikap ini? Ali tidak takut, termasuk bila direcall dari anggota DPR. Dia mengembalikan semuanya itu kepada DPP dan aturan yang ada. Siapa menyusul?
(asy/)











































