"Ponorogo ini belum memiliki alat peringatan dini longsor. Saat ini Indonesia baru memiliki sekitar 200 unit yang disebar di seluruh wilayah Indonesia. Tentu jumlah ini sangat sedikit, karena sebenarnya yang kita butuhkan itu ratusan ribu," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Selasa (4/4/2017).
Sutopo mengatakan alat itu sangat penting untuk memberikan peringatan kepada masyarakat dalam menghadapi tanah longsor. Namun anggaran menjadi permasalahan utama atas minimnya jumlah alat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutopo menjelaskan alat peringatan dini longsor memiliki banyak bentuk. Namun, intinya, alat itu akan mengeluarkan bunyi sebagai peringatan kepada masyarakat bahwa ada ancaman terjadi tanah longsor.
"Iya ada yang bentuknya sirene. Selain itu, juga ada yang bentuknya berbasis curah hujan. Kalau curah hujannya tinggi, maka akan berbunyi. Misalnya kalau curah hujan di atas 50 mili per jam, itu akan mengancam mudahnya terjadi longsor. Terus ada yang berdasarkan retakan, kalau ada retakan, dia berbunyi," tuturnya.
Dia mengakui memang cukup sulit memenuhi kebutuhan ratusan ribu alat peringatan dini tanah longsor di Indonesia. Untuk itu, Sutopo mengimbau beberapa pihak turut peduli dan memberikan bantuan.
"Urusan bencana ini adalah urusan bersama, yaitu urusan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Sehingga saya juga ingin mengimbau kepada dunia pengusaha ataupun juga perguruan tinggi untuk turut memiliki kepedulian terhadap bencana longsor yang dihadapi oleh masyarakat sekitar," katanya. (hld/idh)











































