"Mekanisme yang diduga memicu hujan es tersebut efek pemanasan kota," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Thomas Djamaluddin saat berbincang dengan detikcom, Selasa (28/3/2017) malam.
Pemanasan kota kemudian mendorong uap air naik semakin tinggi. Ketika uap air mencapai ketinggian tertentu dan bersuhu sangat dingin, umumnya akan terjadi proses pengkristalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Efek pemanasan kota membuat gaya dorong uap air ke atas sangat kuat sehingga mencapai titik tersebut. Di beberapa daerah, kondisi ini disertai puting beliung. Ketika kondisi angin di sekitar memungkinkan untuk itu (hujan es) dan ini biasanya terjadi di masa peralihan dari musim hujan ke kemarau atau sebaliknya," ucap Thomas.
Thomas mengatakan pemanasan kota berbeda dengan pemanasan global. Tetapi pemanasan kota juga merupakan faktor pemicu pemanasan global.
Sebelum hujan es terjadi, biasanya suhu kota akan lebih panas sepanjang hari. Ketika kondisi itu sudah terasa, kemudian terbentuk awan hujan atau kumulonimbus (Cb), maka kemungkinan besar es-es atau air yang mengkristal akan turun menghujani kota.
Hujan es memang sebetulnya relatif tidak merusak. Tetapi tentu saja akan terasa sakit jika mengenai tubuh seseorang. Belum lagi angin kencang yang biasanya menyertai dan membuat pohon-pohon tumbang.
Bagaimana cara mencegahnya? "Salah satu mengurangi efek pemanasan kota adalah menambah vegetasi, katakanlah penghijauan hutan kota di sekitar permukiman perlu ditambah. Jadi, dengan penghijauan, pemanasan kota cenderung bisa dikurangi," kata Thomas. (bag/aan)










































