detikNews
Sabtu 25 Maret 2017, 11:13 WIB

Kisah Bung Karno yang Jadikan Peci Lambang Kebangsaan

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Kisah Bung Karno yang Jadikan Peci Lambang Kebangsaan Foto: Dokumen: penasoekarno
Jakarta - Peci hitam belakangan ini menjadi perhatian terkait dinamika Pilgub DKI Jakarta 2017. Adalah Proklamator bangsa ini, Ir Sukarno, bisa dikatakan sosok yang pertama kali mempopulerkan peci hitam sebagai identitas diri dan menjadikannya sebagai lambang kebangsaan.

Hal ini dikisahkan Sukarno dalam salah satu tulisannya saat memasuki kota Bandung. "Minggu terakhir bulan Juni tahun 1921 aku memasuki kota Bandung, seperti Princeton atau kota pelajar lainnya dan kuakui bahwa aku senang juga dengan diriku sendiri. Kesenangan itu sampai sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok. Jadi bisa dibayangkan betapa menyenangkan masa yang kulalui untuk beberapa waktu," kata Sukarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams seperti dikutip detikcom, Sabtu (25/3/2017).

Sukarno kemudian menuliskan akan kesuksesannya dalam menggunakan peci hitam. Peci hitam tersebut dipakainya saat pertemuan dengan Jong Java sesaat sebelum dirinya meninggalkan kota Surabaya.

"Salah satu daripada egoisme ini adalah berkat suksesku dalam pemakaian peci, kopiah beludru hitam yang menjadi tanda pengenalku, dan menjadikannya sebagai lambang kebangsaan kami. Pengungkapan tabir ini terjadi dalam pertemuan Jong Java, sesaat sebelum aku meninggalkan Surabaya," sebut Sukarno.

Ide untuk mempopulerkan peci karena sebelumnya terjadi pembicaraan hangat di antara mereka yang menamakan dirinya kaum 'intelijensia'. Sukarno menyatakan, kaum 'intelijensia' ini selalu menjauhkan diri dari rakyat biasa yang menggunakan blangkon atau tutup kepala yang biasa dipakai masyarakat Jawa.

"Tutup kepala yang biasa dipakai orang Jawa dengan sarung, atau peci yang biasa dipakai oleh tukang becak dan rakyat jelata lainnya. Mereka lebih menyukai buka tenda daripada memakai tutup kepala yang merupakan pakaian sesungguhnya dari orang Indonesia. Ini adalah cara kaum terpelajar ini mengejek dengan halus terhadap kelas-kelas yang lebih rendah," jelas Sukarno.

Sukarno memandang kaum 'intellijensia' tersebut sebagai orang yang 'bodoh' dan perlu belajar. Baginya, seseorang tidak akan mampu memimpin rakyat jika tidak terjun langsung menjalin ikatan bersama rakyat kecil.

"Aku memutuskan untuk mempertalikan diriku dengan sengaja kepada rakyat jelata. Dalam pertemuan selanjutnya kuatur untuk memakai peci, pikiranku agak tenang sedikit. Hatiku berkata-kata. Untuk memulai suatu gerakan yang jantan seperti ini secara terang-terangan memang memerlukan kawan-kawan seperjuangan yang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua berlagak seperti mereka itu orang barat kulit putih, aku ragu-ragu untuk sedetik," kata Sukarno.

Sukarno kemudian bertanya kepada dirinya sendiri. "Jadi pengikutkah engkau, atau jadi pemimpin kah engkau? Aku pemimpin, jawabku menegaskan, kalau begitu buktikanlah, kataku pada diriku. Ayo maju, pakailah pecimu, tarik napas yang dalam dan masuk sekarang!!! Begitulah kulakukan," tegasnya.

Sukarno yang memasuki ruang pertemuan dengan peci hitam kemudian menjadi perhatian. Dengan peci hitam setiap orang memandangnya dengan tanpa kata-kata.

"Di saat itu nampaknya lebih baik memecah kesunyian dengan buka bicara, janganlah kita melupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada di atas rakyat. Mereka masih saja memandang," ujarnya.

Sukarno kemudian memulai pidatonya kepada peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut. Dia mengatakan, Indonesia memerlukan sebuah lambang yang menjadi kepribadian bangsanya. Dengan menunjuk peci hitam yang dipakainya, Sukarno berujar jika peci adalah yang menjadikan sifat khas dari seseorang yang memakainya. Peci seperti yang juga dipakai oleh para pekerja Melayu adalah asli kepunyaan rakyat Indonesia.

"Namanya malahan berasal dari penakluk kita. Perkataan Belanda 'pet' berarti kopiah, 'je' maksudnya kecil. Perkataan itu sebenarnya 'peje'. Ayolah saudara-saudara, mari kita angkat kita punya kepala tinggi-tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia merdeka," ajak Sukarno.

"Pada waktu aku melangkah gagah keluar dari kereta api di stasiun Bandung dengan Peciku yang memberikan pandangan yang cantik, maka peci itu sudah menjadi lambang kebangsaan bagi para pejuang kemerdekaan," sambung Sukarno mengenang kisahnya.


(nvl/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com