"Kita lakukan di Polresta Denpasar, Polres Gianyar, dan Polres Tabanan. Kita lebih banyak memberikan awareness dan pemahaman bahwa polisi itu juga manusia yang tingkat stres dan beban kerjanya tinggi," kata praktisi psikologi Elisabeth T Santosa di Mapolda Bali, Jl WR Supratman, Denpasar, Bali, Kamis (23/3/2017).
Pengambilan sampel melalui metode kualitatif dan kuantitatif itu turut diikuti oleh para kepala unit, kepala polsek, dan kepala polres di tiga wilayah tersebut. Tujuannya agar pemimpin di jajaran kepolisian memiliki kesehatan mental yang baik sehingga bawahannya pun cenderung sehat secara mental.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program ini, menurut Elisabeth, adalah prototipe dari program pembinaan Polri untuk anggotanya agar menjaga kesehatan mental. Diharapkan program pembinaan itu bisa menyeluruh dan positif dilaksanakan pada 2018.
"Hasilnya akan kami sampaikan kepada Pak Kapolri. Tingkat stres yang kami kaji terkait kerjaan sehingga Pak Kapolri bisa mengeluarkan kebijakan baru yang membantu kesejahteraan sehat mental anggota menjadi lebih baik dan juga performanya optimal," ucap Elisabeth.
Hal ini dilakukan karena kesehatan mental anggota Polri berhubungan tidak langsung dengan upaya meningkatkan kepercayaan publik terhadap Bhayangkara. Sedangkan dari pengambilan sampel tersebut, Elisabeth menyatakan ada beberapa anggota di jajaran Polda Bali yang direkomendasikan untuk mendapatkan pemeriksaan kejiwaan.
"Tingkat stres ada 3 level, rendah, sedang, tinggi. Yang tinggi itu hanya 5 persen dari ratusan peserta dan yang banyak itu dari Reskrim, Lantas, dan Sabhara. Dua atau tiga anggota itu sudah kami berikan rekomendasi untuk segera dilakukan pemeriksaan," tutur Elisabeth.
Sementara itu, hasil sampel secara umum dari tiga wilayah tersebut baru akan diketahui tiga pekan lagi. Hasilnya akan menjadi bahan penelitian untuk menentukan kebijakan pengendalian stres anggota Polri.
"Reskrim ini stresnya tinggi karena overload sekali beban kerjanya, seperti prosedur, kasus, dan jam kerja. Kalau dari Lantas karena jam kerjanya tidak manusiawi, 60 jam seminggu. Ini yang harus dipikirkan," ucap Elisabeth. (vid/rvk)











































