DetikNews
Senin 20 Mar 2017, 11:36 WIB

Angkot di Bogor Berhenti Beroperasi, Penumpang Dipaksa Turun

Farhan - detikNews
Angkot di Bogor Berhenti Beroperasi, Penumpang Dipaksa Turun Angkot di Bogor berhenti beroperasi. (Farhan/detikcom)
Kabupaten Bogor - Puluhan angkot di Bogor, Jawa Barat, berhenti beroperasi karena keberadaan angkutan online. Para penumpang dipaksa turun dari angkot.

Pantauan di Jalan KH Soleh Iskandar, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/3/2017), sekitar pukul 10.30 WIB, terlihat puluhan angkot nomor 32 jurusan Cibinong-Ciomas parkir di pinggir jalan untuk melakukan aksi. Tidak sedikit pula sopir angkot yang terpaksa menurunkan penumpang dan berhenti beroperasi.

"Kita minta pemerintah atur angkutan online, terutama itu angkutan mobil online. Pendapatan kita benar-benar berkurang, jangankan buat kebutuhan, buat setoran sehari-hari saja kita kurang. Ini keberadaan transportasi online benar terasa akibatnya," ujar sopir angkot 32 Cibinong-Ciomas, Ali, di lokasi.

Seorang penumpang bernama Dendi mengaku dua kali disuruh turun dari angkot. Ia mengatakan awalnya akan pergi ke Stadion Pakansari, Cibinong, untuk melihat tim nasional Indonesia berlatih.

"Saya sudah dua kali disuruh turun dari angkot. Pertama, saya disuruh turun di depan Bogor Icon (Jalan Soleh Iskandar), saya naik lagi tapi disuruh turun lagi di sini," kata Dendi saat ditemui di underpass Jalan Tol BORR.

Sementara itu, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Bogor Syaiful Mirzak menyebut aksi ini bukan merupakan mogok massal. Ia bersama sopir angkot lainnya berencana mendatangi kantor Pemkab Bogor dan DPRD Kabupaten Bogor untuk melakukan mediasi perihal keberadaan angkutan online di Bogor.

"Tidak melakukan mogok, kami ingin mediasi dulu, curhat dengan Pemkab hari ini. Bila tuntutan kami dihiraukan, kami akan lakukan mogok massal," kata Syaiful saat dimintai konfirmasi wartawan, Senin (20/3).

Menurut Syaiful, keberadaan angkutan berbasis aplikasi sangat mempengaruhi pendapatan angkutan reguler. Penurunan pendapatan bisa mencapai 50-70 persen.

"Ini harus sesuai aturan, jangan yang sudah mematuhi aturan yang jadi korban," pungkas Syaiful.
(dkp/fdn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed