Sang kiai mengenakan kemeja putih tanpa dasi dan jas hitam. Untuk bagian bawah, Hasyim tak mengenakan celana panjang, melainkan sarung layaknya seorang kiai. Sementara alas kaki tetap mengenakan sepatu hitam mengkilat.
Setelah menyalami sohibul hajat dan bercengkerama dengan para tetamu yang lain, Kiai Hasyim, yang kala itu menjabat Ketua Umum PBNU, lantas memilih meninggalkan tempat acara. Begitu tiba di halaman, Hasyim mencopot sepatu dan menentengnya dengan santai, lalu duduk di dekat air mancur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya kenapa mencopot dan menenteng sepatunya, sang kiai menukas diiringi derai tawa, "Ini jari-jari kaki saya pada protes, kepanasan."
Maria, yang juga datang ke resepsi bersama Achmad Tavip Syah, suaminya, ikut tertawa ngakak. Sambil menunggu kedatangan kendaraan yang akan menjemput Kiai Hasyim, mereka berbincang ngalor-ngidul.
Sebetulnya, kata Maria, banyak sekali guyonan yang biasa terlontar dari mulut Hasyim Muzadi setiap kali berjumpa. Tapi adegan menenteng sepatu karena kaki kepanasanlah yang paling berkesan baginya.
"Habis beliau spontan saja bilang kalau jemari kakinya protes kepanasan. Ya ngakaklah kita dengarnya," ujar perempuan yang pernah menimba ilmu di Kanazawa University itu. (jat/erd)











































