DetikNews
Kamis 16 Maret 2017, 14:25 WIB

Tarif dan Kuota Diatur di PM 32/2016, Ini Kata Sopir Taksi Online

Nograhany Widhi K - detikNews
Tarif dan Kuota Diatur di PM 32/2016, Ini Kata Sopir Taksi Online Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Tarif taksi online akan diatur batas atas-bawah. Armada taksi online juga akan diatur tiap provinsi. Apa kata para sopir taksi online?

"Saya setuju tarif batas atas dan bawah diatur. Sementara ini, ya ampun, kalo di Uber, kadang-kadang pernah dapat yang Rp 3.000. Kalo kata teman mah, itu cuma uang kopi doang," tutur Niko saat berbincang dengan detikcom.

(Baca juga: Kemenhub Ingin Tarif Taksi Online Tak Jauh Beda dengan Konvensional)

Namun Niko tidak setuju kalau kuota armada taksi online diatur. Menurutnya, kelebihan Uber adalah dia bisa menjangkau ke mana saja, tidak ada batasan. Itu juga memudahkan warga yang membutuhkan transportasi.

"Kalau taksi kan terbatas, nah kalau seperti Uber ini bebas mau keluar provinsi juga. Kalau kuota mau diatur sih solusinya, misalnya mobilnya daftar Uber di Jakarta, ya cuma boleh narik di Jakarta," jelasnya.

Sopir taksi online lain, Tarto, setuju bila tarif diatur. Menurutnya, persaingan di antara aplikasi taksi online sekarang kurang sehat.

"Misalnya di aplikasi A sedang ada promo dan diskon, penumpang larinya ke sana semua. Kalau diskonnya di aplikasi B, ya pindah semua penumpangnya ke sana," jelas dia saat berbincang dengan detikcom, yang ditulis Kamis (16/3/2017).

Tarto, yang mantan sopir perusahaan taksi konvensional, memiliki 4 aplikasi taksi online. Sejak awal gabung Uber sekitar 1,5 tahun lalu, Tarto terus menerima tawaran bergabung dari 3 aplikasi lain, seperti Grab, Go-Car hingga Oedak. Aplikasi terakhir adalah aplikasi sewa dengan tarif per jam.

(Baca juga: Ini 11 Poin Aturan Taksi Online Dalam Revisi PM 32/2016)

Dia sendiri memutuskan keluar dari perusahaan taksi konvensional sejak 1,5 tahun lalu setelah 8 tahun bekerja di perusahaan itu. Kecewa terhadap perusahaan menjadi salah satu alasannya.

"Saya keluar karena sakit hati. Istri saya mau melahirkan dan mau pinjam uang Rp 2 juta, sudah isi surat segala macam, disetujui cuma Rp 200 ribu. Saya ketawa saja, uang segitu dapat apa. Saya kan pinjam, saya akan kembalikan. Saya juga sudah kerja di perusahaan itu sudah lama," celotehnya.

Akhirnya, Tarto keluar dan menjual sepeda motornya. Hasil menjual motor untuk uang muka membeli mobil Toyota Avanza.

"Banyak teman-teman saya diperlakukan seperti itu. Merasa dizalimi, saya keluar. Teman-teman saya satu pool juga, dari yang tadinya 900 orang, jadi nyusut tinggal 300 an orang saat itu," jelas dia.

Hasil jadi sopir taksi online sendiri, imbuhnya, bisa menutup cicilan mobil per bulan. Setelah dikurangi bensin, Tarto juga masih bisa menabung.

"Hasil bersihnya itu 50 persen lebih tinggi dibanding waktu jadi sopir taksi konvensional," jelas dia.

Pula, menurut dia, taksi online itu bisa membantu warga selama angkutan umum suka kebut-kebutan kejar setoran dan membahayakan para penumpang, dan taksi konvensional yang kadang suka membawa penumpang berputar-putar agar harga argonya mahal.

"Di taksi (konvensional) itu, belum lagi sopir-sopir baru itu suka muter-muterin kalau penumpangnya nggak tahu jalan. Kalau taksi online kan pasti harganya," akunya.

Sementara dihubungi terpisah, Ketua Serikat Pekerja Pengemudi Online (SPPO) Abdullah Umar yang akrab disapa Babe Bowi mengatakan sangat setuju akan 11 poin revisi PM 32/2016.

"Soal tarif, saat ini ada 2 aplikasi yang perang tarif bahkan ada aplikasi yang terjun bebas tarifnya, itu sangat merugikan driver. Tarif atas-bawah saya pribadi mewakili rekan-rekan driver online sangat senang soal aturan ini," tutur Babe Bowi saat berbincang dengan detikcom, Kamis (16/3/2017).

Bukankah perang tarif itu sopir online tetap mendapatkan subsidi dari penyedia aplikasi?

"Ya, sekarang banyak perang tarif, udah bayar Go Pay, ada bonus segala macam pakai kartu kredit. Cashflownya kami jadi kurang, kalau beli bensin gimana, kalau makan gimana," tutur mantan karyawan yang sudah 2 tahunan menjadi sopir taksi online ini.

(Baca juga: Angkot Vs Taksi Online, Kemenhub: PM 32/2016 Jawabannya)

Akhirnya, banyak sopir taksi online yang mematikan aplikasinya saat sebuah aplikasi memberikan promo dan bonus kepada para penumpangnya.

"Cara mengakalinya mereka, saat aplikasi bermain bonus, pakai aplikasi lain. Ketika ada jam-jam tertentu ada diskon, pindah ke aplikasi lain, malamnya pindah lagi ke yang lain, itu strateginya driver," tuturnya.

Babe Bowi juga setuju kuota armada diatur per provinsi. Pengaturan kuota ini dia mengibaratkan seperti satu loyang kue yang dibagi-bagi.

"Di Jakarta driver online banyak sekali. Saya ambil contoh sepotong kue, dibagi 10 lebih besar dibanding dibagi 40. Kadang-kadang ada juga yang cicilannya tersandung-sandung, terseok-seok karena itu tadi, pendapatan mereka menurun. Kalau setahun-dua tahun lalu penghasilan kami sangat bagus," jelasnya.

Revisi PM 32/2016 ini, menurutnya juga bisa meredam konflik angkutan umum plus taksi konvensional versus taksi online.

"Menurut saya revisi PM 32/2016 sangat mengakomodir driver online. Harus segera disahkan karena ada sinyal-sinyal kurang sedap, ada konflik antara angkot dan taksi online di Tangerang, Bandung, Bogor akan terjadi lagi," tandas dia.

Penelusuran detikcom, semua orang asal sudah memiliki KTP bisa menjadi sopir taksi online. Mulai dari mahasiswa yang mencari uang tambahan, ibu rumah tangga yang suaminya berhalangan mencari nafkah hingga karyawan yang memutuskan pensiun dini karena berbagai alasan hingga pengangguran yang kunjung mendapat pekerjaan.
(nwk/try)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed