Orangutan Bak Atlet, Suka Dipukuli dan Ditembak Bila Jadi Hama

Orangutan Bak Atlet, Suka Dipukuli dan Ditembak Bila Jadi Hama

Nograhany Widhi Koesmawardhani, Hary Lukita Wardani - detikNews
Rabu, 15 Mar 2017 15:23 WIB
Orangutan Bak Atlet, Suka Dipukuli dan Ditembak Bila Jadi Hama
Foto: Muhamad Abdurrosyid/detikcom
Jakarta - Orangutan dewasa memiliki kekuatan 6 kali atlet manusia yang terlatih. Mayoritas kekerasan pada orangutan yang dianggap hama biasanya punya luka benda tumpul atau ditembak senapan angin.

(Baca juga:Polres Kapuas Kirim Berkas Kasus Orangutan Dibantai ke Jaksa)

"Orangutan itu memiliki kekuatan 6 kali lipat atlet yang berlatih dengan baik. Dia bisa mengangkat barang, bahkan mematahkan besi," ujar pendiri Centre for Orangutan Protection (COP) Hardi Baktiantoro saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orangutan Bak Atlet, Suka Dipukuli dan Ditembak Bila Jadi HamaFoto: Muhamad Abdurrosyid/detikcom


Maka, lanjutnya, untuk melumpuhkan orangutan biasanya dipukul di kepalanya pakai kayu, atau dicangkul.

"Seratus persen orangutan yang kami temukan mengalami luka di tangan dan kepala. Tangannya biasanya diikat tali kawat atau plastik. Yang mati kadang menurut saya lebih beruntung, karena tidak menderita sakit berkepanjangan karena siksaan," tutur Hardi.

Orangutan Bak Atlet, Suka Dipukuli dan Ditembak Bila Jadi HamaFoto: Orangutan yang ditemukan terluka di TN Kutai Kaltim (Centre for Orangutan Protection/COP)


Dia lantas menunjukkan salah satu orangutan yang mengalami penganiayaan. Salah dua jarinya dipotong.


Orangutan Bak Atlet, Suka Dipukuli dan Ditembak Bila Jadi HamaFoto: Orangutan yang dipotong jarinya (Dokumentasi COP)


"Ini dibuat lelucon seperti simbol metal. Ini dirawat tetapi tetap akhirnya mati," kenangnya.

Hardi lantas menyitir buku "Our Vanishing Relative" atau "Di Ambang Punah" tulisan HD Rijksen, bahwa tiap bayi orangutan yang sampai ke pusat penyelamatan itu mewakili 2-10 ekor orangutan yang mati dan tidak dilaporkan.

Sementara Direktur Biro Humas Kementerian Lingkunan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Djati Witjaksono Hadi juga membenarkan penganiayaan orangutan menggunakan senapan angin.

"Itu yang di Sumatera induknya dua-duanya buta kondisinya tapi anaknya normal. Nah itu yang ditembak-tembakin tadi pake senapan angin, terus kena matanya terus dia jatuh, anaknya diambil," tuturnya.

Orangutan Bak Atlet, Suka Dipukuli dan Ditembak Bila Jadi HamaRelawan COP mengobati orangutan dianggap sebagai hama di hutan yang sudah berubah jadi perkebunan industri, ditembak dengan senapan angin. (Foto: Dokumentasi COP)


Kebanyakan pelaku penganiaya atau pembunuh orangutan ini, menurut Djati, bukan masyarakat asli. Karena masyarakat asli punya kearifan lokal dan mengerti persis fungsi orangutan.

"Kalau masyarakat asli dia punya kearifan, bahwa orang utan udah lama di situ, orangutan juga punya andil pembibitan jenis-jenis tanaman. Kalau masyarakat setempat pasti tidak akan menyakiti atau membunuh orangutan," imbuh dia.

Yang banyak terjadi, penganiaya dan pembunuh orangutan adalah masyarakat pendatang. Masyarakat asli justru berkepentingan terhadap adanya orangutan yang berfungsi menyebarkan biji-biji tanaman.

"Kalau masyarakat lokal terganggu kalau nanti hutannya nggak tumbuh lagi. Kalau orangutan kan buahnya dipetik bijinya sampai kemana-mana. Sambil menyebarkan tanaman. Bukan (warga) asli situ (pembunuh orangutan)," tuturnya.

Pernyataan Djati itu juga diperkuat CEO Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Dr Jamartin Sihite.

"Jadi nggak ada alasan teoritis dan alasan mitos buat orang ngebunuh orangutan, hampir nggak ada acara adat menggunakan orangutan. Jadi nggak ada mitos yang mengatakan kalau makan orangutan bisa jadi cantik. Kebanyakan orangutan dibunuh karena dianggap menggangu," tukasnya saat berbincang dengan detikcom.

Orangutan Bak Atlet, Suka Dipukuli dan Ditembak Bila Jadi HamaFoto: CEO BOSF Dr Jamartin Sihite (Foto: Hary Lukita Wardani/detikcom)


Biasanya, lanjut Jamartin, orangutan itu mendatangi kebun sawit. Lantas dianggap hama hingga dibunuh dan dimakan.

"Biasanya yang membunuh rata-rata dari karyawan sawit. 2011 Pembantaian orangutan di Kalimantan Timur siapa yang melakukan? Karyawan sawit," tegasnya.

Kasus orangutan dimakan, lanjut dia, tidak banyak muncul ke permukaan. Kasus-kasus orangutan dimakan pernah terjadi tahun 2011, 2013 dan kasus terakhir di perkebunan sawit di Kapuas, Kalimantan Tengah.

"Perusahaan kan punya Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Amdal sudah mensyaratkan bahwa membunuh orangutan ada UU-nya. Jangan perusahan tidak tanggung jawab, bilang itu karyawannya dan sebagainya. Itukan di lahannya dia. Dia kan bisa informasikan kalau satwa dilindungi, kalau enggak ya diproses dong," jelas Jamartin. (nwk/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads