Saat Megawati 'Dikejar' Peserta Seminar di Malaysia

Laporan dari Kuala Lumpur

Saat Megawati 'Dikejar' Peserta Seminar di Malaysia

Haris Fadhil - detikNews
Selasa, 14 Mar 2017 14:27 WIB
Saat Megawati Dikejar Peserta Seminar di Malaysia
Megawati dikejar peserta seminar Malaysia untuk berfoto / Foto: Haris Fadhil/detikcom
Jakarta - Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri menjadi salah satu pembicara di seminar bertajuk 'Jenayah Seksual Kanak-kanak: Hentikan!'. Usai berpidato di acara itu, Megawati 'dikejar' para peserta seminar untuk berfoto.

Megawati memberi pidato kurang lebih 30 menit pada acara yang berlangsung di Pusat Dagangan Dunia Putra, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (14/3/2017). Setelah keluar dari lokasi seminar, para peserta terlihat mengejar Megawati yang jalan bersama Istri PM Najib Razak, Datin Paduka Seri Rosmah Mansor dan Menko PMK Puan Maharani untuk foto bersama.

Megawati, Rosmah dan Puan pun terlihat dengan senang hati meladeni permintaan foto bersama oleh para peserta seminar. Terlihat beberapa peserta seminar bergantian meminta foto bersama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam seminar ini, Megawati menyampaikan materi tentang 'Kerja sama Rantau ASEAN dalam Memberantas Jenayah Seksual Kanak Kanak'. Dia menuturkan salah satu penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak ialah kemiskinan.

"Problem kemiskinan menjadi salah satu penyebabnya. Demikian halnya, dampak negatif perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Begitu gencarnya ancaman liberalisasi global yang diikuti oleh gencarnya kampanye atas nama seks bebas dan berbagai nilai yang tidak sesuai dengan tradisi dan sistem budaya kita. Hal inilah yang harus diwaspadai," ujar Megawati.

Selain ancaman itu, Megawati juga berpendapat ada budaya feodal dan diskriminatif yang berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah menganggap perempuan hanya sebagai pelengkap dalam rumah tangga.

"Nampak adanya budaya feodal dan diskriminatif yang terus dipertahankan. Contoh sederhana, laki-laki dianggap sebagai kepala rumah tangga yang berkuasa penuh atas apa yang boleh dan tidak boleh terjadi dalam rumah. Perempuan terbatas hanya sekedar 'pelengkap'. Akibatnya, kalaupun perempuan dapat beraktivitas di ruang publik dia memiliki 'beban ganda', yaitu mengurus rumah dan mencari nafkah. Tak ada pembagian tugas yang berimbang di dalam rumah," jelasnya.

"Kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan dan anak mendapat tempat dengan alasan budaya kita tidak mengizinkan kekerasan dalam rumah tangga dibuka ke ruang publik, sebab hal tersebut dianggap tabu. Nilai dan tradisi yang deskriminatif inilah yang harus kita ubah," lanjutnya.

Dia kemudian mengambil contoh perjuangan perempuan dalam mengubah budaya diskriminatif di masyarakat. Salah satunya, terlihat dalam sebuah film India yang baru saja ditontonnya.

"Beberapa waktu yang lalu saya menonton film India yang sangat inspiratif bagi kaum perempuan, yakni 'Dangal'. Dalam film tersebut bagaimana kehidupan di suatu desa yang masih terkungkung oleh tradisi yang diskriminatif terhadap perempuan, nampak bagaimana tradisi tersebut dirombak oleh perjuangan seorang perempuan yang karena perjuangannya mampu menjadi pegulat tangguh dan berdiri sejajar dengan kaum laki-laki. Itulah syarat pentingnya, fighting spirit sebagai modalitas terpenting, bagi bangkitnya peran kaum perempuan, termasuk kepemimpinan perempuan dalam politik," ujar Megawati. (HSF/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads