Hakim Tegur Saksi Suyanto yang Kerap Melirik ke Ahok

Sidang Ahok

Hakim Tegur Saksi Suyanto yang Kerap Melirik ke Ahok

Aditya Mardiastuti, Audrey Santoso - detikNews
Selasa, 14 Mar 2017 13:44 WIB
Hakim Tegur Saksi Suyanto yang Kerap Melirik ke Ahok
Foto: Grandyos Zafna (Dok.detikcom)
Jakarta - Suyanto ditegur majelis hakim gara-gara kerap melirik ke meja barisan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bersama tim penasihat hukumnya. Suyanto menjadi saksi meringankan yang diajukan pihak Ahok.

"Saudara jangan lirik-lirik ke sebelah situ. Masih ada di situ kok, nggak usah takut," ujar salah satu hakim anggota dalam persidangan di auditorium Kementerian Pertanian, Jl RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (14/3/2017).

Suyanto kerap melirik ke sisi sebelah kanan meja penasihat hukum saat tanya-jawab dengan majelis hakim. Saat Suyanto ditegur, Ahok terlihat hanya tersenyum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam persidangan, Suyanto ditanya mengenai hubungan kerja dengan Ahok. Majelis hakim juga sempat bertanya mengenai pernah-tidaknya Suyanto dimarahi oleh Ahok.

"Nggak pernah dimarahin Pak. Saya selalu lebih pagi (nggak pernah telat) Pak. Disuruh datang pukul 08.00 WIB, saya pukul 06.30 WIB sudah sampai," kata Suyanto.

"Nggak pernah dimarahin sedikit-sedikit?" tanya hakim anggota.

"Pernahlah, tapi nasihat," jawab Suyanto, yang disambut tawa dari pengunjung.

Suyanto kembali ditegur oleh hakim karena kedapatan melirik Ahok saat menjawab pertanyaan penasihat hukum. Saat itu Suyanto bercerita soal dirinya yang kerap menginap di rumah Ahok.

"Di mana tidurnya," tanya penasihat hukum ke Suyanto.

"Di kamar Pak Basuki, kan ruangannya banyak," kata Suyanto, yang mengaku sudah mengenal Ahok sejak 1989.

Selain itu, Suyanto menuturkan mengenai hubungan Ahok dengan para tetangga di Belitung Timur.

"Pak Basuki sampai sekarang bantu masjid, naikin haji empat orang," kata dia.

Dengan pengetahuannya itu, Suyanto tidak yakin Ahok melakukan penistaan agama sebagaimana dakwaan jaksa. "Tidak ada (menghina atau menistakan agama)," sebutnya.

Namun majelis hakim kembali mengingatkan Suyanto, yang kedapatan melirik meja Ahok.

"Saudara jangan lihat ke sana (Ahok) ya. Saudara jangan takut, nggak pernah dimarahi (Ahok) kan?" tanya Budiarso, yang membuat hadirin dalam persidangan tertawa.

"Nggak takut Pak," jawab Suyanto polos.


Selebaran soal Al-Maidah sejak Ahok Jadi Bupati

Dalam sesi tanya-jawab dengan penasihat hukum Ahok, Suyanto menyebut selebaran soal Surat Al-Maidah 51 sudah muncul saat Ahok maju dalam pilkada di Belitung Timur.

"Itu sudah muncul semua, sudah muncul Al-Maidah 51," kata Suyanto.

Suyanto mengetahui ada selebaran tersebut saat berada di warung kopi. Selebaran itu menjadi buah bibir di kalangan teman-temannya.

"Kita kan tiap pagi nongkrong di warung kopi. Saya mendengar dari teman-teman," ujar dia.

Selain Suyanto, pihak Ahok menghadirkan saksi meringankan Juhri. Mantan Ketua Panwaslu Kabupaten Belitung Timur itu bicara mengenai ceramah Gus Dur soal memilih pemimpin nonmuslim.

"Saya mendengar sewaktu almarhum Gus Dur hadir dalam kampanye. Kebetulan sebagai anggota panwas, saya hadir. Gus Dur menyampaikan kita boleh memilih pemimpin nonmuslim," kata Juhri.


Juhri Bicara Pernyataan Gus Dur

Penasihat hukum juga bertanya mengenai pernyataan Gus Dur yang diingat saksi. Juhri menyebut salah satunya memilih gubernur tidak ada urusan dengan agama.

"Memilih gubernur tidak ada urusan dengan agama. Alquran mengatakan kita tidak boleh dekat kafir, itu bukan orang Kristen. Yang dinamakan kafir dalam Alquran adalah mereka yang tidak bertuhan. Urusan politik itu tidak ada hubungannya dengan agama. Berarti kalau kita nyoblos Ahok, bukan berarti kita ikut agama dia," paparnya.

Juhri menyebut tidak ada pelanggaran dalam kampanye tersebut. Sebagai umat, Juhri mengaku setuju dengan yang dikatakan Gus Dur.

"Saya setuju dengan apa yang dikatakan Gus Dur," kata dia.

Juhri mengatakan saat itu tidak ada yang protes atas apa yang diucapkan oleh Gus Dur.

"Tidak ada," jawab Juhri. (ams/fdn)


Berita Terkait