Kuliah Umum di ITB, Kapolri Ingatkan Pentingnya Jaga Kebinekaan

Kuliah Umum di ITB, Kapolri Ingatkan Pentingnya Jaga Kebinekaan

Baban Gandapurnama - detikNews
Rabu, 08 Mar 2017 13:26 WIB
Kuliah Umum di ITB, Kapolri Ingatkan Pentingnya Jaga Kebinekaan
Foto: Baban Gandapurnama/detikcom
Bandung - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengingatkan pentingnya kebinekaan di Indonesia. Perlu peran bersama semua pihak untuk semakin memperkuat keberagamaan sehingga tidak tercerai berai.

Hal ini disampaikan Tito saat memberikan kuliah umum di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Jalan Ganeca, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/3/2017). Menurut Tito, terdapat dua faktor yang berpotensi mengancam perpecahan kebinekaan.

Dua faktor itu terdiri atas kelompok internal dan eksternal. "Kelompok pertama ialah dari internal atau dalam negeri yang berkaitan soal kesejahteraan dan ketimpangan, yaitu beruntung secara ekonomi dan kurang beruntung secara ekonomi," ujar Tito di hadapan ratusan mahasiswa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan semua orang berhak berpendapat ideologi, kultur, dan keamanan merupakan persoalan penting dalam keberagaman. Namun, sambung Tito, justru masalah terpenting ialah ekonomi.

"Ancaman kita saat ini ekonomi. Maka itu, negara dibentuk untuk berkewajiban menyejahterakan rakyat," ucapnya.

Tito menuturkan kemunculan kelompok kelas masyarakat, yang terdiri dari kelas atas (high class), kelas menengah (middle class), dan kelas bawah (low class), dapat mengganggu kebinekaan di Indonesia.

Kecemburuan sosial dari kelompok low class bila terus dibiarkan akan menimbulkan gejolak yang berujung mengusik keutuhan keberagaman.

"High class mendominasi terhadap low, maka middle harus bangun untuk menjadi penyeimbang high dan low. Jadi kelas menengah harus bangkit membentuk pressure grup yang mengawasi dan mengoreksi high class agar tak mendeteksi low. Kalangan middle dapat memperkuat low dalam bidang edukasi. Middle class yang utama ialah kaum intelektual dan intelektual kampus," tutur Tito.

Faktor kedua yang mengancam kebinekaan Indonesia ialah urusan eksternal, yang berkaitan dengan ragam persoalan di negara luar. Tito menjelaskan saat ini dunia tengah menghadapi sejumlah fenomena, yakni demokratisasi, liberalisasi, dan globalisasi.

Menurut Tito, kekuatan Barat kini tengah memegang hegemoni dan China menjadi calon super power. Indonesia, sambung Tito, harus berada di posisi tengah.

"Kita (Indonesia) harus bermain cantik. Tidak memusuhi, tapi mengambil keuntungan dari dua-duanya. Lalu kelompok gerakan Islam dunia harus bisa bersatu. Jangan sampai pecah belah, seperti Irak dan Mesir," ujar Tito.

Dia menegaskan kebinekaan Nusantara dari Sabang sampai Merauke harus dikelola serta dirawat agar tidak terjadi konflik yang berisiko memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

"Konflik harus bisa dikelola supaya jangan sampai menghancurkan. Harus diselesaikan dan dicari solusinya. Kalau ingin membuat satu kesatuan menjadi solid, maka identifikasi kepentingan kebersamaan dan perbedaan," tutur Tito. (bbn/fdn)


Berita Terkait