Tentang Gambut, Kemarau, dan Kebakaran Lahan di Riau

Tentang Gambut, Kemarau, dan Kebakaran Lahan di Riau

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Selasa, 28 Feb 2017 13:40 WIB
Tentang Gambut, Kemarau, dan Kebakaran Lahan di Riau
Foto: Dok Satgas Udara Kebakaran Hutan dan Lahan
Pekanbaru - Riau bersiap menghadapi kemarau. Bukan soal kekeringan, melainkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satu fokusnya adalah kebakaran lahan gambut yang sulit dipadamkan.

Gambut merupakan jenis tanah yang berasal dari sisa tanaman yang setengah membusuk. Kandungan organiknya sangat tinggi. Di Riau, daerah yang memiliki lahan gambut terluas adalah di Indragiri Hilir, Bengkalis, dan Kepulauan Meranti, Pelalawan, dan Siak. Total lahan sekitar 500.000 hektare.

Di musim kemarau, lahan gambut jadi sorotan karena terbakar. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, pada tahun 2014, 22.037 hektare lahan gambut yang hangus. Tahun 2015 turun jadi 7.914 hektare, dan tahun 2016 turun lagi jadi 3.902 hektare.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tren memang menurun, tapi BPBD tetap siaga. Sebab gambut bukan lahan biasa. Di atas berupa tanah, di dalam berisi air. Rata-rata air di kedalaman 2-3 meter. Dari luas kawasan di Riau, separuhnya gambut.

"Kebakaran di lahan gambut sulit dipadamkan," kata Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger, Selasa (28/2/2017).

Pemadaman tak cukup di permukaan. Bisa saja api di atas padam. Tapi di dalam tanah, api tetap hidup dan menjalar pelan.

Pasukan pemadam kebakaran hutan milik perusahaanPasukan pemadam kebakaran hutan milik perusahaan Foto: Chaidir Anwar T/detikcom
Jika sudah terbakar, sekalipun api tidak tampak menjalar, asap putih akan mengepul dari perut bumi. Penanganannya membutuhkan ekstra kerja keras. Water bombing dengan heli yang membawa air 4 sampai 5 ton harus bolak-balik menyiram. Ini dilakukan agar air bisa meresap ke kawasan gambut.

Di darat, tim lain harus bekerja ekstra keras. Mereka menyemprot air ke lahan yang belum terbakar. "Itu untuk memutus rantai api," kata Edwar.

Jika api terlalu besar, maka alat berat harus diturunkan untuk membuat sekat kanal kedalaman 2 sampai 3 meter. Harapannya, api tidak menjalar. Permukaan harus tetap dijaga agar tak terbakar lagi.

Selain gambut, lahan yang sulit dijangkau menjadi permasalahan sendiri. Jalan satu-satunya hanya lewat udara atau water bombing. Untuk lahan gambut, pemadaman bisa menghabiskan waktu 3 sampai 4 hari.

"Pemadaman tak bisa dilakukan Satgas (Satuan Tugas) sendiri. Perlu sinergi bersama perusahaan, pemerintah, dan masyarakat," tutup Sanger.


(cha/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads