Ini Analisa KLHK Soal Banjir di 5 Wilayah

Ini Analisa KLHK Soal Banjir di 5 Wilayah

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Minggu, 26 Feb 2017 14:37 WIB
Ini Analisa KLHK Soal Banjir di 5 Wilayah
Foto: ilustrasi banjir di Bima/Dokumentasi BNPB
Jakarta - Ada 5 banjir bandang di wilayah Jawa-Bali-NTB sejak akhir 2016 hingga Februari 2017. Apa penyebab banjir bandang itu? Ini Analisis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

"Secara umum banjir sumber utamanya hujan. Dipengaruhi kondisi hulu dan hilir Daerah Aliran Sungai (DAS)," kata Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian DAS KLHK, Yuliarto saat berbincang dengan detikcom, Minggu (26/2/2017).

Hulu DAS, papar Yuliarto, dilihat dari penutupan lahan di hulu DAS yang mempunyai fungsi resapan air.

"Berapa yang diresapkan dan berapa yang dilepaskan dalam bentuk run off (aliran permukaan). Menentukan jumlah air hujan yang dialirkan sebagai run off dalam bentuk banjir, sebagian ada yang teresapkan," jelas dia.

Hilir DAS, dilihat dari kapasitas pengaliran, seperti saluran sungai dan drainase.

"Kapasitas pengaliran ini menentukan terjadinya banjir atau tidak. Seberapapun besarnya saluran sungai kalau bisa mengalirkan air ke laut atau waduk, ya aman sebetulnya," paparnya.

Nah, kondisi kapasitas pengaliran inilah yang dinamis, di samping alami, ada peran manusia di situ. Ada penyempitan, juga sedimentasi (pengendapan).

"Kalau kapasitas pengalirannnya lebih kecil dari kapasitas sungai, ya banjir," tuturnya.

Bertolak dari analisa tutupan lahan di Hulu DAS dan kapasitas pengaliran di Hilir DAS, maka berikut analisa KLHK soal banjir di 5 wilayah Jawa-Bali-NTB:

1. Bandung Selatan

Waktu terjadi banjir: Oktober 2016

Baca juga: Banjir Hampir 2 Meter di Bandung Rendam 3 Kecamatan

Luas DAS di hulu Sungai Citarum ada 236 ribu hektar. Dari jumlah itu, seharusnya minimal tutupan hutannya 30 %, namun kenyataannya yang bentuknya tutupan lahan hutan hanya sekitar 18 %.

Lahan kering, yang banyak ditanami sayuran dengan drainase baik sehingga membiarkan air melimpas, mencapai 30%. Tutupan permukiman mencapai 17,47%.

"Kami punya lahan gede 36 ribu hektar di DAS Citarum, dalam kondisi kritis," jelas Yuliarto.

Saat terjadi banjir, curah hujan tinggi mencapai 180 mm, menggelontorkan air dari 8 sub das sebanyak total 1.700 m3/detik. Kapasitas pengaliran 1.600 m3/detik, jadi ada 100 m3/detik tak mengalir di sungai menjadi banjir.

"Itu sungainya lurus lho. Kalau sungainya belok-belok lebih kecil lagi," tuturnya.

Kalau hulu DAS Citarum direhabilitasi semua dengan tanaman keras bisa menurunkan debit banjirnya menjadi 1.200 m3/detik. Artinya dengan kapasitas pengaliran di hilir DAS 1.600 m3/detik, maka Bandung selatan bisa aman dari banjir.

"Kalau ada bangunan-bangunan konservasi tanah, seperti sumur resapan, bisa menekan banjir di bawah 800 m3/detik," tutur dia.

Di lahan KLHK sendiri ada 36 ribu hektar hutan kritis, sebagian karena ada perambahan. Hutan KLHK itu dikelola Perhutani.

"Sedang dilakukan penataan karena memang di sini ada tanaman sayuran, komitmen Pemda mengubah sayuran jadi kopi. Kami mau rehabilitasi Citarum mulai tahun ini, bertahaplah," papar dia.

2. Cimauk, Garut-Jabar

Waktu terjadi banjir: September 2016

Baca juga: Banjir Bandang di Garut: 200 Rumah Hancur dan 16 Orang Masih Hilang

Garut mengalami banjir bandang di Kota Garut. Dari Kota Garut ke atas, ada DAS Cimanuk Hulu seluas 59 ribu hektar. Kondisi vegetasi tetap hutan, sekunder dan tanaman, hanya 19% dari 59 ribu hektar, padahal idealnya minimal 30%. Pertanian lahan keringnya malah mencapai 46%, mayoritas sayuran dan 22% sawah.

Baca juga: Eksploitasi Hulu Sungai Cimanuk Jadi Salah Satu Penyebab Banjir Bandang Garut

"Konservasi tanahnya kurang. Ada kaitannya dengan budaya masyarakat sana bercocok tanam sayur, di hutan juga ada yang dirambah untuk sayur. Sekarang sedang ditertibkan, jadi hutan lindung, ada formasi hutan strata paling tinggi-tengah-bawah. Bukan hutan tanaman seperti jati saja," tutur Yuliarto.

Kalau lahan kering makin luas, di luar kawasan harus diupayakan direhabilitasi dengan pola agroforestri.

Perhitungan KLHK volume air saat terjadinya banjir mencapai 906 m3/detik. Sedangkan kapasitas pengaliran di titik banjir, 605 m3/detik. Ada 300-an m3/detik jadi banjir bandang.

Baca juga: BNPB Sebut Penyebab Banjir Bandang di Garut karena Buruknya Sungai Cimanuk

3. Bima-NTB

Waktu terjadi banjir: Desember 2016

Banjir saat itu melanda wilayah Kota dan Kabupaten Bima. Di atasnya, ada kawasan DAS Sari seluas 25.800 hektar. Saat ini hutan lahan kering sekunder hanya 19%, hutan berkurang tak sesuai dengan kondisi ideal, yang minimalnya 30%.

Lahan keringnya, ada 44% pada 2015, meningkat dari 2006 yang hanya 23%. Lahan kering meningkat karena ada penanaman jagung. Di Kabupaten Dompu, tetangga Kabupaten Bima, sukses mengembangkan jagung. Kesuksesan ini membuat masyarakat Bima ikut mengembangkan jagung.

Baca juga: Banjir Bandang di Bima NTB, Ribuan Rumah Terendam

Imbas penanaman jagung di Bima ini, semak belukar yang tadinya seluas 8.500 hektar di tahun 2006, turun menjadi 5.240 hektar di tahun 2015.

Penurunan global ini indikasi ada pembukaan lahan untuk pertanian lahan kering meningkat dari 6.200 hektar di tahun 2006 jadi 11.500 hektar di tahun 2015.

"Ada perubahan tutupan lahan 2006-2015 terjadi karena peningkatan insentifikasi jagung," jelas dia.

Di hilir DAS, ketika terjadi bencana banjir lalu, debit air tercatat 760 m3/detik, kapasitas pengaliran hanya 172 m3/detik. Kapasitas pengaliran makin menyempit di kota.

"Dan itu ketika kami berkunjung ke sana Pak Wali Kota mengakui kapasitas pengaliran sudah menurun karena banyaknya bangunan di pinggir sungai, penyempitan saluran drainase. Kantor kabupaten lama belum pernah kebanjiran, kemarin kebanjiran. Sempat bisa diatasi," tutur Yuliarto.

Pemkot Bima, lanjutnya, juga melakukan penanggulangan di hulu DAS Sari, dibantu dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk melakukan pengerukan sungai demi meningkatkan kapasitas pengaliran.


4. Kebun Raya Eka Karya, Bedugul-Bali

Waktu terjadinya banjir: Februari 2017

Di Kebun Raya Eka Karya, Bedugul Bali, memiliki DAS kecil, 243 hektar. Namun wilayah Bedugul memiliki curah hujan tertinggi di Bali saat musim hujan.

Ketika banjir, debit puncak banjir 14 m3/detik, dan kapasitas pengaliran 4,3 m3/detik. Artinya, kemampuan sungai di kebun raya menampung air hanya 4,3 m3/detik, sehingga
ada 10 m3/detik air yang melimpas jadi banjir.

"Kasus di Bali, itu justru hutannya bagus, tidak ada lahan kritis. Hutan semua. Hutan tanaman 22%, lahan kering primer dan sekunder ada 77%. Hutan semua, tak terjadi kerusakan di situ," tutur Yuliarto.

Karena hutan semua, maka penangkapan/peresapan airnya sudah maksimal. "Mau apalagi. Hutan maksimal itu hanya 0,5 persen air yang dilimpaskan, sudah maksimal. Kok masih terjadi banjir? Kapasitas pengalirannya mesti diperbesar," jelasnya.

Kapasitas pengaliran yang dimaksud adalah sungai dan saluran gorong-gorong di Kebun Raya Eka Raya mesti diperbesar.


5. Lebak, Pandeglang - Banten

Waktu terjadi banjir: Februari 2017

Di Lebak ada hulu DAS Ciliman seluas 50 ribu hektar. Ketika banjir debit puncak 298 m3/detik. Kapasitas pengaliran 68 m3/detik. Artinya, 230 m3/detik menjadi air limpasan alias banjir.

"Kasusnya penyempitan dari di perkotaan, kondisi tutupan lahan, hutannya memang kecil hanya 11,5 persen, 10 persen di antaranya hutan tanaman, bukan hutan lindung/alam. Fungsi perlindungannya berkurang," papar Yuliarto.

(Baca juga:Banjir Rendam Ribuan Rumah di Lebak dan Pandeglang Banten - https://news.detik.com/berita/d-3420115/banjir-rendam-ribuan-rumah-di-lebak-dan-pandeglang-banten)

Lahan kering mencapai 66%, sebagian besar palawija, sayuran dan padi lahan kering. Hutan 11,5% dan penyempitan di kota kurang ideal.

Perkembangan 2006-2015, hutan lahan kering sekunder menurun dari 2006 luas tutupan hutan 14,5% dan di 2015 jadi 11,5%. Sementara lahan kering meningkat dari 66% (2015), dari 58% (2006).

"Pemulihan di Ciliman hanya 1,4 persen. Harus waspada pada penurunan vegetasi tutupan hutan. Peningkatan lahan kering harus diatasi dengan tutupan hutan," tandas dia.
Halaman 2 dari 6
(nwk/idh)


Berita Terkait