Dibanjiri Kritik, Sjafrie Tak Masalah
Jumat, 15 Apr 2005 03:04 WIB
Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan, sah-sah saja bila sebagian kalangan mengeluarkan pernyataan bernada miring terkait pengangkatan dirinya menjadi Sekjen Dephan. Dirinya juga meminta agar semua pihak tidak mematikan orang untuk berbeda pendapat."Saya oke saja terhadap pernyataan-pernyataan yang miring. Sekarang ini era demokrasi, sehingga kita harus open mind," kata Sjafrie kepada wartawan di Jakarta Kamis (14/4/2005) sore tadi.Sjafrie menambahkan, masyarakatlah yang akan melihat mana yang akuntabel atau tidak dengan pengangkatan sejumlah perwira TNI aktif yang duduk dalam jabatan strategis di Dephan. Sjafrie menerima pernyataan atau kritik sejumlah LSM yang dianggapnya baik. "Untuk itu semua pihak diminta jangan mematikan setiap orang untuk berbicara. Silakan saja, kecuali kalau itu sifatnya fitnah, itu harus dibuktikan," ujarnya.Terkait dengan kritik soal keterlibatannya dalam pelanggaran HAM di Timtim, Sjafrie mengatakan, semua tentara pernah ditugaskan ke Timtim. Bahkan KPP HAM Komnas HAM telah menyampaikan bahwa tudingan kepada dirinya secara hukum telah gugur. Hal itu terkait dengan keberadaan dirinya dalam kasus penyerangan di kediaman Uskup Belo di Timtim tgl 5 September 1999, tidak terbukti."Pada saat itu, saya bersama dengan perwira lainnya sedang ada rapat di Mabes TNI di Cilangkap. Itu ada notulennya. Itu salah satu contoh, jadi biar saja. Biarkan nanti masyarakat yang melihat. Ini kan negara hukum," katanya.Berkaitan dengan jabatan Sekjen Dephan yang dipercayakan kepada dirinya, Sjafrie mengatakan itu merupakan penugasan bagi perwira TNI yang masih aktif di suatu departemen pemerintah, dan sesuai dengan UU No.34/2004 tentang TNI. Dia juga menjelaskan, bahwa dirinya sebagai Sekjen Dephan nantinya bertanggung jawab dan berada di bawah kendali Menhan, bukan Mabes TNI. Tapi bila dilihat dari sisi pembinaan prajurit, dirinya tetap berada di bawah Panglima TNI apalagi terkait kenaikan pangkat."Sebagai Sekjen Dephan, saya tidak bisa bicara lagi soal komando teritorial. Tapi sekarang bicaranya soal pertahanan makro," jelasnya.Ia mengakui, walau besok dilantik menjadi Sekjen Dephan tapi jabatannya sebagai Kapuspen Mabes TNI belum dilepaskan karena hingga kini Mabes TNI belum menentukan siapa penggantinya. Hingga kini proses Wanjakti di Mabes TNI mengenai penggantinya belum dilakukan.Sementara itu beberapa hari ini beredar informasi, untuk jabatan Kapuspen Mabes TNI ada beberapa kandidiat yang dicalonkan, di antaranya staf ahli Panglima TNI Mayjen TNI Bambang Darmono, Wakapuspen Mabes TNI Brigjen Tono Suratman, dan mantan Kepala Dinas Penerangan AL Laksamana Muda Adiaman AS.
(ast/)











































