"Jika tidak hati-hati, ini (dinamika medsos) bisa menimbulkan sebuah dekonstruksi anak-anak kita dalam berpikir. Dan ini harus diantisipasi sedini mungkin," kata Jokowi dalam sambutan pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2017 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (26/1/2017).
Peserta Rembuknas berasal dari lingkup internal Kementerian Pendidikan, kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia, organisasi guru, UPT kebudayaan, Lembaga Sensor Film, hingga dewan kesenian tingkat provinsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan hanya berita benar, berita bohong juga bertebaran di ranah jejaring dunia maya. Maka filter informasi yang paling efektif adalah filter yang tertanam dalam diri anak-anak itu sendiri.
"Belum tentu hal yang tersampaikan dalam media media sosial itu benar. Belum tentu. Banyak hal yang bohong dan tidak benar. Sehingga anak-anak perlu dididik menyaring mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang salah dan mana yang benar," tutur Jokowi.
Jokowi ingin anak-anak Indonesia bisa memenangi persaingan di kancah global. Maka penguatan pendidikan teknologi informasi perlu dilakukan. Misalnya di tingkat sekolah dasar (SD), siswa perlu diajari program mengetik dan menghitung di komputer.
"Saya ingin apa yang saya sampaikan tadi dirumuskan dalam sebuah pemikiran-pemikiran yang lebih komprehensif," perintah Jokowi.
(dnu/rvk)











































