"Bukan kami lakukan redesain, bukan, melainkan mukanya ada dua pilihan. Kami bikin yang aerodinamis. Bukan redesain ya, tetapi memilih dua. Untuk merancang semua desain total tidak mungkin, akan memperlambat waktu," ujar Soni seusai mendatangi RSUD Tarakan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017).
Dua desain yang dimaksud Sumarsono adalah desain lama dan desain baru. Desain baru yakni desain yang dibuat setelah ada tim yang meninjau langsung ke Jepang pada Desember 2016. Pemprov DKI, yang diwakili Kepala Bappeda, termasuk dalam tim tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, 5 persen dari proses pengerjaan kereta MRT dianggap kurang pas dari segi desain lokomotifnya. Tim kemudian berdiskusi kembali.
"Mendiskusikan desain baru yang warna biru, yang aerodinamis dan sporty. Ini bukan mengubah desain, tapi bahasanya adalah mempercantik," paparnya.
Tim yang berangkat ke Jepang kemudian melaporkan kepada Soni, mereka menyatakan tidak sreg dengan desain yang disebut Soni mirip jangkrik itu. Dari laporan itu, kemudian disepakati bahwa desain kereta berwarna biru akan dijadikan alternatif.
"Ini dari diskusi panjang, semua cenderung memilih desain modifikasi yang warna biru," ujarnya.
Desain lama kepala MRT (Foto: Dok. PT MRT Jakarta) |
"Hari ini atau paling lambat besok, kami sampaikan ke Pak Presiden melalui Menteri-Sekretaris Negara, karena yang mempelopori adalah Pak Jokowi saat menjadi Gubernur DKI Jakarta," ucapnya.
"Hal ini terkait dengan kesinambungan sejarah. Kami minta pertimbangan kepada beliau," Soni melanjutkan.
Baca juga: Penampakan Kepala Kereta MRT 'Jangkrik' yang Disoal Sumarsono
Soni menyatakan, perubahan tersebut tidak menambah biaya jika nantinya disepakati. "Kalau ada yang bilang biaya Rp 64 miliar itu kalau diubah semua dan bisa mundur lagi selama setahun. Kita tidak setuju," katanya.
Dari klarifikasi itu, Soni mengatakan bahwa desain lama boleh dipilih. Namun, dari hasil tinjauan tim, kemungkinan besar akan dipilih desain yang baru.
"Sudah ada negosiasi, mempercantik itu tidak menambah biaya. Dulu harusnya ada konsultasi dari pihak MRT yang lama, tapi tidak ada konsultasi. Lalu, tim MRT yang baru melihat ada yang kurang," tandasnya.
(rna/fdn)












































Desain lama kepala MRT (Foto: Dok. PT MRT Jakarta)