Polisikan Dwi Estiningsih karena 'Pahlawan Kafir', Pelapor: Dia Kader PKS

Mei Amelia R - detikNews
Rabu, 21 Des 2016 15:51 WIB
Foto: Dwi Estiningsih dilaporkan ke Polda Metro Jaya (Mei Amelia/detikcom)
Jakarta - Forum Komunikasi Anak Pejuang Republik Indonesia (Forkapri) melaporkan Dwi Estiningsih ke Polda Metro Jaya. Dwi dilaporkan karena kicauannya di Twitter yang mempersoalkan 5 pahlawan nasional di uang rupiah baru yang disebutnya sebagai kafir.

"Forkapri melaporkan Dwi Estiningsih atas twit berisi ujaran kebencian bernuansa SARA di akun Twitter-nya," ujar Birgaldo Sinaga selaku kuasa hukum pelapor, Ahmad Zaenal Efendi, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Birgaldo mempersoalkan dua cuitan Dwi pada akun Twitter @estiningsihdwi pada 19 Desember lalu. Pertama adalah cuitan "Iya sebagian kecil dari non muslim berjuang, mayoritas pengkhianat. Untung sy belajar #sejarah".

"Kemudian cuitan keduanya yaitu 'Luar biasa negeri yg mayoritas Islam ini. Dari ratusan pahlawan, terpilih 5 dari 11 adalah pahlawan kafir. #lelah." Dwi mencuitkan itu saat me-retweet sebuah berita dari akun @wartapolitik berjudul 'Tiada Pahlawan Imam Bonjol di Dompet Kami Lagi'.

Baca juga: Kritik 'Pahlawan Kafir' di Rupiah Baru, Dwi Estiningsih Dilaporkan ke Polisi

Menurut Birgaldo, cuitan Dwi tersebut, terutama kata 'kafir', dinilai mengandung unsur kebencian. Dwi juga dinilai tidak menghargai kebhinekaan negara Indonesia.

"Bagi kita, itu jelas sebuah penghinaan karena setiap orang memiliki iman dan kepercayaan, tapi tidak serta-merta dilempar ke ruang publik dan menganggap kita tidak beriman," kata Brigaldo.

Brigaldo berharap agar polisi segera memproses hukum Dwi. Dia mengatakan tidak mengharapkan permintaan maaf dari Dwi karena, menurutnya, pernyataannya itu sudah keterlaluan.

"Terlapor Dwi Estiningaih berdasar rekam jejak kita pantau adalah seorang kader PKS, pernah nyaleg di Jogja dan dia master psikologi UGM," lanjutnya.

Baca Juga: Dwi Estiningsih Dipolisikan karena 'Pahlawan Kafir', PKS: Itu Pendapat Pribadi

Atas hal itu, Ahmad Zaenal Efendi, yang mengaku sebagai anak pejuang, merasa terhina oleh pernyataan Dwi tersebut. Dalam laporan bernomor LP/6252/XII/2016/PMJ/Dit.Reskrimsus, Dwi dilaporkan atas tuduhan Pasal 28 ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Kami sangat terluka kebetulan kami keluarga pejuang. Kami lihat ini ada upaya adu domba memecah belah," ujar Ahmad.


(mei/hri)