Hasil survei Median pada September 2016 menunjukkan elektabilitas Ahok-Djarot sebesar 34,2 persen. Angka itu menurun drastis menjadi 26,6 persen dalam survei yang dilakukan pada November atau setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka dugaan penistaan agama.
Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun mengatakan, menurunnya elektabilitas pasangan Cagub-Cawagub nomor urut 2 itu tak bisa lepas dari kasus dugaan penistaan agama yang saat ini menjerat Ahok. "Jadi kalau kita melihat, ini (penurunan elektabilitas) tidak bisa kita lepaskan dari kasus penistaan agama," kata Rico kepada wartawan, Kamis (1/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan besarnya citra negatif yang menghantam Ahok, wajar saja ada penurunan suara yang cukup tajam," tambah Rico.
Menurut dia setelah kasus dugaan penistaan agama mencuat, banyak suara yang semula mendukung Ahok beralih. Ada yang ke Agus Yudhoyono-Sylviana Murni, sebagian lagi diperkirakan akan memilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Elektabilitas Agus-Sylvi dan Anies-Sandiaga pun mengalami kenaikan. Agus-Sylvi mengalami kenaikan tajam dari 21 persen di bulan September menjadi 29,6 persen di November. Duet Anies-Sandi juga mengalami peningkatan elektabilitas meski tipis yakni, dari 25,4 persen di September menjadi 26,4 persen.
Survei dilakukan pada 16 sampai 26 November 2016 dengan mewawancarai 500 responden yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Sampel dipilih secara random dengan teknik Multistage Random Sampling dan proporsional atas populasi kotamadya dan gender. Margin of error dari survei ini sebesar plus minus 4,4 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (erd/fjp)










































