DetikNews
Senin 28 November 2016, 14:25 WIB

Cita-cita Bocah Korban Bom Samarinda: Mau Jadi Polisi Tangkap Orang Jahat

Herianto Batubara - detikNews
Cita-cita Bocah Korban Bom Samarinda: Mau Jadi Polisi Tangkap Orang Jahat Foto: Alvaro Sinaga memakai kaos turn back crime (Istimewa)
Samarinda - Balita bernama Alfaro Aurelius Tristan Sinaga (4) menjadi salah satu korban pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (13/11) lalu. Jika sudah besar nanti, dia bercita-cita menjadi polisi.

Sudah 2 minggu Alvaro dirawat di RSUD Abdul Wahab Sjahranie, Samarinda, Kalimantan Timur. Dia dirawat bersama dua temannya yang juga jadi korban, yakni Trinity Hutahayan (3) dan Anita Kristobel (2).

Ibunda Alvaro, Novita Sagala, menceritakan, kondisi anaknya saat ini sudah semakin membaik. Alvaro diketahui mengalami luka bakar 18 persen di bagian wajah, kepala bagian belakang serta tangan dan pahanya.

"Puji Tuhan sekarang sudah ada perkembangan. Mereka semua sudah bisa cerita, sudah tertawa, tapi masih dibalut perban," kata Novita saat dihubungi detikcom lewat telepon, Senin (28/11/2016).

Menurut Novita, baik Alvaro, Trinity maupun Anita sudah sangat ingin pulang ke rumah. Mereka semua rindu bermain-main lagi layaknya teman-teman sebayanya yang lain.

"Mereka sudah mau pulang. Pengen banget berenang, jalan-jalan, main. Tapi belum boleh pulang sama dokter. Masih lama sepertinya, masih disuruh bersabar," ucapnya.

Baca juga: Video Mengharukan Balita Korban Bom Samarinda Nyanyi Lagu Gereja

Menurut Novita, ada perubahan yang dialami Alvaro akibat peristiwa serangan bom di depan Gereja Oikumene yang dilakukan teroris Juhanda itu. Cita-cita anaknya yang awalnya ingin menjadi petugas pemadam kebakaran sudah tidak lagi diinginkannya.

"Dia tadinya mau jadi pemadam kebakaran. Koleksi mobil pemadamnya ada banyak. Tapi sejak kejadian itu, dia mau jadi polisi katanya. Mau tangkap-tangkapin orang jahat," kata Novita.

Ditambahkan Novita, dirinya sudah memaafkan teroris Juhanda dan orang-orang lain yang terlibat dalam aksi pelemparan bom molotov di depan Gereja Oikumene pada Sabtu (13/11) itu.

"Kalau kami semua sudah memaafkan. Di agama kami sudah diajarkan untuk tidak dendam, kita diajarkan untuk penuh kasih. Dari awal kejadian kita memaafkan. Enggak ada dendam. Kami mendoakan supaya orangnya bertobat," imbuh Novita.
(hri/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed