KontraS dan LBH Minta Polisi Segera Autopsi Asep yang Tewas Didor 12 Kali

KontraS dan LBH Minta Polisi Segera Autopsi Asep yang Tewas Didor 12 Kali

Haris Fadhil - detikNews
Jumat, 11 Nov 2016 18:23 WIB
KontraS dan LBH Minta Polisi Segera Autopsi Asep yang Tewas Didor 12 Kali
Asep saat ditangkap 2011 (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Kasus kematian Asep Sunandar masih menyisakan dugaan penyiksaan dari oknum kepolisian. Kapolda Jawa Barat Irjen Bambang Waskito diminta untuk mengevaluasi penyidikan kematian Asep tersebut.

Asep merupakan buronan kasus penganiayaan sejak tahun 2014. Dia tewas ditembak polisi karena berusaha kabur dari rumahnya pada 10 September 2016.

Namun tiga lembaga yaitu Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan LBH Bandung menduga ada kejanggalan dalam penangkapan Asep yang kemudian ditembak itu. Mereka pun menyebut bahwa penyidik Polda Jawa Barat tidak profesional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami nilai ada ketidakprofesionalan yang dilakukan oleh penyidik Polda Jawa Barat," kata kuasa hukum pelapor, Bunga Siagian, di kantor LBH Jakarta, Jalan Pangeran Diponegoro nomor 74, Jakarta Pusat, Jumat (11/11/2016).

Selain itu, Bunga juga menyebut bahwa penyidik mengarahkan kesimpulan penggunaan senjata api yang dilakukan oleh aparat kepolisian Polres Cianjur adalah hal wajar. Dia pun mengatakan hal itu menyebabkan substansi dugaan penyiksaan dan penembakan terhadap Asep menjadi kabur.

"Penyidik sejak awal sudah memiliki kesimpulan Asep sebagai pelaku kriminal, sehingga penggunaan kekuatan dan praktik-praktik penyiksaan merupakan hal yang wajar. Ketidakprofesionalan pihak penyidik juga terlihat dalam proses meminta keterangan oleh penyidik kepada keluarga dan saksi-saksi," ucapnya.

Di tempat yang sama, pendamping dari KontraS bernama Arief mengatakan bahwa sampai saat ini proses autopsi terhadap jenazah Asep belum dilakukan. Padahal, menurutnya, Polda Jawa Barat telah mengirimkan surat perintah autopsi ke RSUD Cianjur.

"Apabila autopsi tidak dilakukan dengan segera semakin terlihat bahwa penyidikan tidak dilakukan dengan profesional dan independen," jelas Arief.

Mereka pun mendesak agar proses autopsi terhadap jenazah Asep segera dilakukan. Selain itu, mereka juga meminta proses penyidikan terhadap kasus kematian Asep dievaluasi. Kemudian, mereka juga meminta Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengawasi proses tersebut.

Tentang kematian Asep pun sempat disoroti The Asian Human Rights Commission (AHRC) yang berbasis di Hong Kong. Mereka menyoroti proses penangkapan hingga 12 lubang bekas peluru di tubuh Asep. Namun Kasat Reskrim Polres Cianjur, AKP Benny Cahyadi, menjelaskan bahwa mekanisme penangkapan Asep alias Mpep sudah sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP).

(Baca juga: Asian Human Rights Sorot Asep yang Didor 12 Kali Hingga Tewas, ini Kata Polres Cianjur)

"Dia buron sejak 2014 lalu, dia saat itu ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan bersama adiknya bernama Arifin alias Bule. Si Bule tertangkap sementara si Mpep kakaknya melarikan diri," Kata Benny Cahyadi kepada detikcom Rabu (28/9/2016).

Benny menyebut Asep sangat 'licin' sejak dinyatakan buron beberapa kali dia melakukan teror dan kekerasan terhadap warga. Tahun 2011 Asep bahkan sempat ditahan karena kasus penyerangan menggunakan pedang.

"Tahun 2011 dia pernah ditahan karena menjadi otak aksi penganiayaan menggunakan senjata tajam pedang. lalu dalam kurun waktu tahun 2014 sampai 2016 tercatat ada 17 aksi kejahatan yang dilakukan tersangka, yang paling menonjol adalah penganiayaan terhadap tiga orang santri yang baru pulang dari pengajian. Hal itu memicu reaksi sejumlah ormas islam, polisi merespons dengan menyebar personel di sejumlah titik yang dicurigai kerap ditongkrongi oleh tersangka," lanjut Benny.

Menanggapi sorotan HAM internasional, Benny tak terlalu mempersoalkan hal itu. Menurutnya, proses penangkapan Asep sudah sesuai SOP.

"Pelaku ini terbilang sadis dan meresahkan masyarakat, upaya tembakan peringatan sudah kita lakukan namun mendapat perlawanan," tegas Benny. (dhn/dhn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads