Gangguan-gangguan kampanye dialami Ahok dan Djarot. Terbaru, kehadiran Djarot ditolak oleh warga Kembangan Selatan saat berkampanye di Kembangan Utara, Jakarta Barat, Rabu 9 November 2016. Sebelumnya, Djarot pernah mendapat penolakan ketika berkampanye di Cilincing, Jakarta Utara, Rabu 3 November. Namun ia memilih mendekati para pendemo dan mengajaknya berdialog.
Selain itu, kedatangan Ahok tidak luput dari sasaran penolakan. Kampanye Ahok saat itu berlangsung penuh ketegangan. Sekelompok orang rupanya mengejar Ahok. Ahok beserta ajudan, timses dan petugas kepolisian langsung masuk ke dalam Mikrolet M 24. Bukan hanya Ahok, anggota DPC PDIP turut menjadi korban pemukulan sekelompok orang tersebut. Atas insiden itu, Ahok menjelaskan tindakan penolakan dirinya di Jalan Ayub tersebut telah mencederai nilai demokrasi di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timses Ahok-Djarot telah melaporkan peristiwa ini ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta. Bawaslu DKI Jakarta siap menindaklanjuti laporan tersebut sesuai UU yang berlaku.
Berikut 6 kisahnya:
Ketegangan di Rawa Belong, Ahok Naik Mikrolet
|
Foto: Agung Pambudhy
|
Ahok tiba di Jalan Salam, Kebon Jeruk sekitar pukul 16.10 WIB, Rabu (2/11/2016). Cagub yang berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat itu menyapa dan menyalami beberapa pedagang di pasar kaget tersebut. Kondisi di sekitar pasar langsung heboh dengan kehadiran Ahok.
Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Ketegangan dan kehebohan mulai terjadi saat sekitar 15 menit Ahok blusukan di wilayah pasar kaget tersebut. Tiba-tiba saja teriakan keras memanggil dan mengumpat Ahok terdengar. Para petugas keamanan pun langsung bertindak.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Ahok ngapain lu ke sini!" teriak sekelompok orang yang mengenakan peci hitam. Mereka pun turut membawa spanduk bertuliskan 'Ahok Dajjal'.
Ahok sempat menoleh sebentar ke arah pendemo tersebut. Namun salah satu staf timsesnya berujar,"Sudah jangan panik. Jalan saja, Pak."
Ahok pun akhirnya berjalan dengan pengawalan polisi. Namun ketegangan kembali terjadi saat sekelompok orang itu rupanya mengejar Ahok. Petugas kepolisian pun langsung beraksi. Bahkan beberapa ada yang membawa senjata. Ahok sempat menoleh sebentar ke arah pendemo tersebut. Namun salah satu staf timsesnya berujar,"Sudah jangan panik. Jalan saja pak."
Ahok beserta ajudan, timses dan petugas kepolisian langsung masuk ke dalam Mikrolet M 24 menuju Polsek Kebon Jeruk. Tak lama Ahok berada di Polsek Kebon Jeruk. Ia pun akhirnya keluar menemui para wartawan yang telah menanti. Ahok menjelaskan tindakan penolakan dirinya di Jalan Ayub tersebut telah mencederai nilai demokrasi di Indonesia.
Ditolak di Kembangan, Djarot Ajak Dialog
|
Foto: Rachman Haryanto
|
"Jadi ada tadi sekelompok warga, saya enggak tahu itu dari organisasi apa. Intinya dia menolak kedatangan Ahok. Karena saya dianggap merupakan bagian dari Pak Ahok, dia mengatakan juga menolak saya," ujar Djarot di Kembangan Utara, Jakarta Barat, Rabu (9/11/2016).
"Saya bilang kepada mereka, saya ketemu mereka. Saya minta di mana komandannya, saya ingin ketemu. Mereka pada lari," lanjutnya.
Saat bertemu dengan sekelompok pemuda itu, Djarot menyampaikan bahwa dalam proses demokrasi Pilgub setiap pasangan calon bebas melakukan kampanye di wilayah mana saja, tanpa ada aturan khusus berupa pelarangan bagi salah satu pasangan memasuki wilayah.
"Begitu saya ketemu salah seorang yang saya pikir komandannya, saya beri tahu bahwa ini dalam rangka kampanye Pilkada, setiap kandidat boleh masuk ke mana saja. Kalian tidak boleh menolak. Itu ada dalam UU Pilkada dan kalian bisa dilaporkan Bawaslu," terang Djarot.
Djarot juga mengatakan bahwa dirinya dan Ahok berniat baik untuk mengunjungi warga DKI untuk mendengar keluhan serta aspirasi.
Ahok Kampanye Spontan dan Suka-suka
|
Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom
|
"Enggak dirahasiakan juga. Ini sebenarnya pola yang saya pakai waktu sama pak Jokowi," jelas Ahok usai blusukan di Petojo Utara, Jakarta Pusat, Selasa (8/11/2016).
Ahok mengaku menentukan lokasi kampanyenya dengan spontan. Hal itu terinspirasi dari Joko Widodo yang saat itu menjadi pasangan duetnya dalam Pilgub 2012.
"Kenapa kami tidak mau mengikuti titik-titik oleh partai. Karena kata Pak Jokowi waktu kami tahun 2012 kalau saya datang ikuti arahan partai bisa aja partai mengarahkan ke tempat-tempat yang enggak ada masalah. Yang sudah banyak yang milih yang merupakan konstituennya. Saya enggak mau," katanya.
Model kampanye itu yang dipilihnya agar benar-benar menemukan kondisi riil di lapangan. Sehingga pemilihan lokasi murni pilihan Ahok sendiri. "Makanya saya lebih suka kasih tahu titiknya mana. Suka-suka saya jalan mau kemana. Kayak tadi mau kiri ke kanan. Mau kanan, enggak aku mau ke kiri. Itu pelajaran dari Pak Jokowi waktu 2012," kata dia.
Lapor Bawaslu
|
Foto: Surat Laporan Timses Ahok-Djarot ke Bawaslu DKI
|
Laporan Timses Ahok-Djarot dipimpin oleh Wibi Andrino, Rabu (9/11/2016) malam. Demo-demo penolakan warga dirasa sudah meresahkan.
"Kita melaporkan adanya dugaan perampasan hak. Karena terjadinya penolakan-penolakan itu," ungkap Wibi saat dihubungi detikcom, Kamis (10/11/2016).
Pelaporan ke Bawaslu DKI menurut Sekretaris DPW Partai Nasdem DKI Jakarta ini adalah sesuai aturan yang ada. Nantinya, lanjut Wibi, Bawaslu yang akan meneruskan laporan itu ke pihak kepolisian.
"Sebelum dilaporkan ke polisi lapor Bawaslu dulu. Aturannya kalau ada laporan ke Bawaslu lalu Bawaslu akan melapor ke kepolisian dan kejaksaan," tutur dia.
Timses Duga Ada yang Memobilisasi
|
Foto: Surat Laporan Timses Ahok-Djarot ke Bawaslu DKI
|
"Kita menduga penolakan terjadi bukan dari warga setempat," ungkap Tim Sukses Ahok-Djarot, Wibi Andrino saat dihubungi, Kamis (10/11/2016).
Penolakan terhadap Ahok dan Djarot mayoritas terjadi di daerah Jakarta Barat. Namun ada juga satu lokasi di Jakarta Utara ketika Djarot tengah blusukan.
Timses Duga Ada yang Memobilisasi
|
Foto: Danu Damarjati/detikcom
|
"Kita menduga penolakan terjadi bukan dari warga setempat," ungkap Tim Sukses Ahok-Djarot, Wibi Andrino saat dihubungi, Kamis (10/11/2016).
Penolakan terhadap Ahok dan Djarot mayoritas terjadi di daerah Jakarta Barat. Namun ada juga satu lokasi di Jakarta Utara ketika Djarot tengah blusukan.
Halaman 2 dari 7











































