PAN dan PKB, Taruhan Terakhir Pemerintahan SBY-Kalla?
Senin, 04 Apr 2005 08:08 WIB
Jakarta - Jatuhnya Partai Golkar ke tangan M Jusuf Kalla, membuat pemerintahan SBY-Kalla menguat secara politik. PDIP tetap jatuh ke tangan Megawati. Kini, PAN dan PKB dikabarkan akan menjadi taruhan terakhir bagi SBY-Kalla untuk menguatkan posisinya.Benarkah? Isu seperti ini memang sudah beredar kencang sejak beberapa waktu lalu. Tepatnya, setelah Akbar Tandjung gagal mempertahankan posisinya sebagai ketua umum Golkar. Golkar, yang sebelumnya 'mendeklarasikan' dirinya sebagai oposisi, menjadi pro pemerintah setelah dipimpin Jusuf Kalla, yang merupakan wakil presiden RI.Sejak itu, bermunculan wacana, termasuk dari sejumlah pengamat politik, bahwa SBY-Kalla akan memperkuat posisinya dengan menguasai partai-partai politik. Dan isunya, parpol-parpol bersuara besar akan di'Golkar'kan.Isu semacam itu wajar beredar, karena majunya Kalla sebagai calon ketua umum Golkar cukup mengejutkan. Padahal, jauh hari sebelumnya, SBY-Kalla lebih mengesampingkan menteri-menteri dari parpol dan memilih kabinet ahli dan juga menginginkan adanya penyeimbang bagi pemerintah.Dalam perkembangannya, Golkar dalam genggaman Kalla dirasakan cukup membantu pemerintahan SBY-Kalla, terutama di DPR. Sebagai contoh, kenaikan harga BBM per awal Maret lalu menjadi mulus, karena Golkar sebagai 'penguasa' DPR tidak mempermasalahkannya.Setidaknya, saat ini pemerintah SBY-Kalla telah bekerja sama dengan sejumlah parpol besar, antara lain Golkar, Partai Demokrat, dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Bila hanya tiga parpol yang digenggam, maka pemerintahan tetap bisa saja terganggu.Apalagi, PDIP tetap jatuh ke tangan Mega, sehingga tetap melanggengkan posisi oposan terhadap pemerintah. Maka kini, PAN (Partai Amanat Nasional) dan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dikabarkan akan menjadi taruhan terakhir bagi pemerintah. PAN akan berkongres 7-10 April 2005 di Semarang dan PKB akan bermuktamar 16-18 April 2005 di Semarang.Isu pemerintah SBY-Kalla akan 'merecoki' kongres dua parpol ini memang sudah jadi perbincangan kader dua parpol itu. Indikasinya memang sudah ada. Di PAN, Hatta Rajasa, menteri perhubungan dan sekjen DPP PAN, tiba-tiba menyatakan diri maju sebagai calon ketua umum PAN.Di PKB, Alwi Shihab (Menko Kesra) dan Saifullah Yusuf (Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah tertinggal) ngotot agar diposisikan ke posisi semula sebagai ketua umum DPP PKB dan ketua DPP PKB. Keduanya juga akan menggugat DPP PKB yang memecat mereka.Majunya Hatta sebagai calon ketua umum PAN memang mengejutkan. Apalagi selama ini, di PAN, agak tabu bila pejabat eksekutif, apalagi menteri, ingin mencalonkan diri sebagai ketua umum PAN. Kecuali bila sang menteri itu mundur dari jabatannya terlebih dulu. Keputusan Hatta untuk maju juga cukup mengejutkan, karena jauh sebelumnya Hatta pernah menyatakan tidak akan maju.Deklarasi Hatta menjadi calon ketua umum PAN langsung jadi bahan perbincangan oleh para kader PAN. Intinya, majunya Hatta akan ditentang, karena bisa merusak kredibilitas PAN. Apalagi, selama ini, Amien Rais sudah mewanti-wanti agar ketua umum PAN tidak merangkap jabatan di eksekutif.Karena itu, diduga Hatta maju sebagai ketua umum PAN, karena didesak SBY. "Dugaan kita memang sudah sejak awal. SBY tentu akan 'menitipkan' orangnya untuk menguasai PAN," kata seorang kader PAN yang keberatan disebutkan namanya kepada detikcom, Minggu (3/4/2005).Dan dugaan itu ternyata benar adanya. "Dua pekan sebelum Hatta mendeklarasikan maju sebagai ketua umum PAN, Hatta datang ke Pak Amien di Yogya. Di sana dia mengaku maju untuk menyenangkan SBY. Dia berjanji akan mundur dari pencalonan saat kongres digelar," ungkap kader PAN yang aktif di DPP PAN ini.Ungkapan Hatta ini tentu menjadi permasalahan serius. "Seorang kader PAN sampai bisa ngomong begitu. Ini ancaman buat PAN. Dan kami tidak yakin bahwa Hatta akan mundur dari pencalonan saat di kongres," ujarnya.Sementara itu, di kalangan PKB juga beredar keyakinan bahwa ngototnya Alwi dan Gus Ipul mengugat PKB, karena mendapat tekanan oleh SBY-Kalla. "Dulu saat dicopot, mereka tidak langsung mengugat. Mereka protes ke DPP dan akan menggugat baru sepekan lalu," jelas seorang sumber di PKB.Apalagi, kata dia, keinginan Gus Ipul menjadi ketua umum PKB dalam kongres PKB 16-18 April mendatang, semakin menguatkan keyakinan itu. "Yang kita dengar, ada ancaman dari SBY-Kalla, bila mereka tidak bisa menguasai PKB, maka pilihannya adalah reshuffle," ungkapnya.Benarkah isu ini? Namanya juga isu, bisa salah, namun bisa saja benar. Apalagi isu-isu semacam ini memang sering menggelinding di setiap ada perhelatan politik seperti ini.
(sss/)











































