Ricuh, Saifullah Yusuf Jadi Ketum GP Ansor Secara Aklamasi

Ricuh, Saifullah Yusuf Jadi Ketum GP Ansor Secara Aklamasi

- detikNews
Minggu, 03 Apr 2005 15:51 WIB
Jakarta - Kongres ke-13 GP Ansor mirip Kongres PDIP. Pemilihan ketua umum dilakukan secara aklamasi. Saifullah Yusuf alias Gus Ipul ditetapkan sebagai ketua umum GP Ansor 2005-2010 secara aklamasi di tengah kericuhan. Penetapan Gus Ipul sebagai ketua umum GP Ansor dilakukan dalam sidang mekanisme pemilihan ketua umum GP Ansor di Aula Utama Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Minggu (3/3/2005). Sidang dipimpin oleh Endin Soefihara. Saat penetapan Gus Ipul sebagai ketua umum, terjadi demo yang dilakukan massa Arvin Hakim Toha. Arvin, merupakan kader Ansor yang juga ingin bertarung dengan Gus Ipul dalam kongres Ansor ini. Bahkan, sempat terjadi dorong-dorongan antara massa Arvin dengan Satgas Banser. Sidang yang sebelumnya ricuh pada saat membahas pasal 4 mengenai mekanisme pemilihan ketua umum ini, akhirnya menetapkan bahwa ketua umum dipilih secara aklamasi. Sidang sepakat mengubah pasal yang dimunculkan di dalam draf tentang hal ini. Sebelumnya, dalam draf pasal 4 a disebutkan bahwa pemilihan ketua umum akan dilakukan dengan voting, apabila tidak calon ketua umum yang didukung 99 suara. Sedangkan pasal 4b disebutkan bila calon ketua umum hanya satu, maka akan ditetapkan ketua umum secara aklamasi. Dalam sidang, pasal 4 a dan 4 b ini berhasil diubah yang menguntungkan Gus Ipul. Pasal 4 a diubah menjadi pemilihan ketua umum dilakukan secara aklamasi. Sedangkan pasal 4 b diubah menjadi, apabila ketua umum tidak bisa terpilih secara aklamasi, maka pemilihan ketua umum akan dilakukan voting. Dengan ditetapkannya pasal mekanisme pemilihan ketua umum ini, selanjutnya sidang berjalan lancar. Setelah mekanisme pemilihan ketua umum diketuk, pimpinan sidang kemudian melemparkan ke floor mengenai disetujuinya Saifullah Yusuf sebagai ketua umum GP Ansor. Peserta sidang pun menyatakan setuju. Sekitar pukul 14.00 WIB, pimpinan sidang mengetukkan palu untuk menetapkan Gus Ipul sebagai ketua umum GP Ansor 1005-2010. Saat sidang, di luar sidang, massa Arvin melakukan aksi demonstrasi. Aksi dipimpin oleh Ngatawi El Zastrouw. Arvin juga ikut dalam aksi itu. Massa melakukan aksi demonstrasi di depan pintu masuk ruang sidang. Massa ingin masuk ke ruang sidang, karena sidang telah berjalan tidak fair dan demokratis. Massa terus ingin mendobrak pintu ruang sidang. Akhirnya, massa sempat saling dorong dengan Satgas Banser yang menjaga pintu masuk ruang sidang itu. Setelah terjadi saling dorong, satgas Banser akhirnya memperbolehkan Arvin masuk ke ruang sidang. Arvin masuk ke ruang sidang setelah pimpinan sidang sudah menetapkan terpilihnya Gus Ipul.Arvin masuk dan langsung menemui pimpinan sidang. Setelah bersalaman dengan pimpinan sidang, Arvin orasi di depan peserta muktamar. "Pemilihan ketua umum ini tidak fair," kata Arvin dengan nada tinggi. Arvin pun kemudian dibawa oleh Satgas Banser dan didudukkan di kursi. Setelah itu, ruang sidang yang sebelumnya memanas, menjadi reda. Kepada wartawan, Arvin menuding Gus Ipul takut kalah bila dilakukan voting. "Dia takut kalah voting. Karena itu, saya masuk ke sini untuk menyampaikan pendapat bahwa saya tidak ingin anak NU dibodohi. Saiful kerdil. Saya masuk ke sini, karena cabang-cabang dukung saya," jelasnya.Entah benar atau tidak klaim Arvin yang mengaku didukung Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor belum diketahui. Penetapan pemilihan ketua umum secara aklamasi ini didasari atas pemandangan Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor yang menginginkan Gus Ipul memimpin GP Ansor kembali. Padahal, belum tentu PC GP Ansor sepakat dengan aspirasi PW. Dengan penetapan ketua umum secara aklamasi, suara PC memang tidak diketahui apakah benar-benar menginginkan Gus Ipul menjadi ketua umum atau tidak. (asy/)


Berita Terkait