Namun kini, penguatan simpul-simpul pemerintah seperti memperkuat fungsi desa makin dipertajam. Apa saja strategi Kabupaten Banyuwangi dalam pengembangan desa sebagai pilar pembangunan nasional?
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menjawab tantangan itu dengan menyebar pembangunan infrastruktur dan peningkatan sumber daya manusia (SDM) hingga ke desa. Sebab tak dipungkiri kemiskinan masih terkonsentrasi di desa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai langkah awal tahun ini dana desa dari pemerintah pusat mencapai Rp 134,46 miliar. Ditambah dengan alokasi dana desa (ADD) dari Pemkab Banyuwangi, dana yang mengalir ke desa mencapai Rp 227,48 miliar.
"Dana itu digunakan untuk berbagai hal, mulai dari pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan pemerintahan desa. Jika desa bersama-sama dikembangkan, maka kita ikut mengobati sebagian besar kemiskinan nasional karena konsentrasi terbesar kemiskinan masih ada di desa," ungkap Anas ketika dihubungi detikcom, Selasa (25/10/2016).
Menurut Anas banyak tantangan yang harus diselesaikan oleh desa. Mulai dari infrastruktur yang tak merata, kualitas SDM yang relatif lebih rendah dibanding kawasan kota, hingga kapasitas ekonomi yang belum memadai.
Anggaran pemerintah daerah yang terbatas diakuinya tak akan cukup untuk membangun seluruh jalan. Sementara di sisi lain anggaran banyak tersedot mayoritas untuk pendidikan, kesehatan, dan pertanian. Maka yang dilakukan Banyuwangi adalah pemilihan prioritas.
"Selain itu, pemerintah desa juga dilibatkan. Kami mulai melakukan audit jalan, mana yang menjadi porsi pemerintah kabupaten, dan mana yang menjadi porsi pemerintah desa, sehingga tercipta kolaborasi yang apik. Ini berbagi peran untuk membagi habis masalah yang ada," jelas Anas.
Menghadapi penyelesaian tantangan SDM desa juga butuh proses yang tidak instan. Transformasi yang Pemkab Banyuwangi kerjakan ialah membuat program Banyuwangi Mengajar.
Sarjana muda yang mampu lulus mendapatkan beasiswa khusus dan memiliki kemampuan teruji dikirim ke desa-desa untuk melakukan transformasi pengetahuan.
Mereka diwajibkan tinggal di desa itu selama setahun. Pemkab Banyuwangi menyediakan honor bagi mereka yang terjaring dalam program tersebut.
"Jadi desa bukan hanya butuh transfer dana untuk pembangunan infrastruktur, tapi juga pembangunan SDM-nya," kata dia.
Strategi selanjunya, sambung Anas, adalah penguatan ekonomi warga desa. Produk unggulan desa seperti komoditas pertanian harus diberi nilai tambah dan perluasan jaringan pemasaran.
Banyuwangi-mall.com ialah sistem pemasaran berbasis IT yang disediakan oleh Banyuwangi untuk membuka pasar baru bagi ekonomi kreatif
"Misalnya, dulu cuma tanam padi biasa, sekarang tanam padi organik. Kemudian kami bantu pasarkan lewat situs online banyuwangi-mall.com. Kami juga baru saja menjalin kerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mendampingi tiga desa yang diperkuat ekonomi kreatifnya," pungkas Anas.
(fdn/fdn)











































