Muda dan Menginspirasi

Kata Samuel Putra Soal Rahasia Kuliah di Oxford, Kampus Nomor 1 Dunia

Nograhany Widhi K - detikNews
Selasa, 11 Okt 2016 12:50 WIB
Foto: Samuel Putra

"Di sana orang-orangnya lebih individualis, self centered. Mereka berteman fokusnya tetap pada diri sendiiri. Tipsnya, kita bisa keluar dari comfort zone sih. Contoh, mereka (orang Inggris) kalau gaul ke pub, ke bar, kalau kita ke warung kopi. Sosial mereka memang seperti itu. Kita sebagai orang Indonesia, syok, menutup diri, diajak jadi nggak pergi," kata Samuel.

Samuel Putra (Foto: Nograhany WK)Samuel Putra (Foto: Nograhany WK)


Bila mengalami gegar budaya seperti itu, kuncinya adalah mendorong untuk membuka diri. Bukan berarti harus ikut minum alkohol, bila tak terbiasa minum alkohol.

"Menurut saya itu (bersosialusasi) harus di-embrace (diupayakan), bukan berarti kita minum-minum. Di pub pun kita bisa minta air putih, cola, ya tapi kalau ke pub ikutlah kan kita bisa ngobrol. Minum air putih nggak apa-apa kok, mereka ngerti, nggak memaksa, mereka sama sekali respek tradisi kita. Mereka nggak peduli selama kita bisa joint sama ngobrol, ke depannya harusnya oke," jelas dia.

Pihak kampus pun, imbuh Samuel, mengadakan pekan orientasi untuk membantu mahasiswa asing beradaptasi. Di pekan orientasi itu, mahasiswa asing seperti dari Indonesia bisa berkesempatan untuk bersosialisasi, mencari teman, bergaul dan segala macam. Jadi soal gegar budaya jangan dikhawatirkan.

Oxford juga memperhatikan kesehatan mental mahasiswanya. Karena kuliah dengan jumlah mata kuliah yang banyak, maka kerap mahasiswa tidak kuat. Mahasiswa yang tidak kuat ini diizinkan mengambil cuti kuliah selama satu tahun dan melanjutkan lagi tahun depannya. Biasanya, mahasiswa itu cuti untuk berkegiatan di luar hal akademis seperti kerja sosial atau travelling.

"Saya travelling juga sering keliling Eropa," kata Samuel yang maraton menyelesaikan S1 dan S2 di Oxford ini.

Untuk membiayai travellingnya, Samuel bekerja sebagai guru privat pelajaran sains murid SMP-SMA di Inggris. Hasilnya juga dikumpulkan untuk tiket pulang ke Indonesia setahun sekali. Samuel juga mendapatkan 7 penghargaan selama kuliah di Oxford seperti Tchnos International Award, Deana Lee Awards, BP-Paul Martin Award, Domus Award, Santander TRavel Grant, JCR Travel Grant dan Jardine Award.

"Kalau libur hampir tiap hari sehari 5 jam. Kalau lagi aktif kuliah seminggu 4-8 jam, kadang-kadang sehari 2 jam, besoknya nggak. Itu cukup buat menabung. Di sana aku dapat award juga entah karena prestasi akademik atau sosial di Oxford. Awardnya memang dalam bentuk uang, bisa ratusan bahkan ribuan poundsterling, dari award-award ini untuk travelling dan pulang," tutur Samuel yang kini sudah kembali ke Universitas Oxford mengejar pendidikan dan riset doktoralnya di bidang energi terbarukan ini.
Halaman

(nwk/erd)