Muda dan Menginspirasi

Kata Samuel Putra Soal Rahasia Kuliah di Oxford, Kampus Nomor 1 Dunia

Nograhany Widhi K - detikNews
Selasa, 11 Okt 2016 12:50 WIB
Foto: Samuel Putra

Dalam perkuliahan yang singkat itu, bagaimana bila kurang paham materinya? Nah, di sinilah keunggulan sistem pendidikan di Oxford.

"Ada sistem tutorial. Sistem ini tak ada di universitas lain, adanya di Oxford dan Cambridge saja. Sistemnya itu semi privat dengan dosen, sistemnya 1 lawan 2, 1 dosen dan 2 murid. Kita diberikan alokasi seminggu 2 kali, masing-masing sejam. Seminggu 2 jam untuk tutorial masing-masing mata kuliah," paparnya.

(Baca juga: Samuel Putra, Jawara Sains Dunia hingga Lulus Summa Cumlaude di Oxford)

Waktu perkuliahan di kelas, 1 dosen bisa mengajar sampai 100 lebih mahasiswa, yang memberikan sekitar 4 materi perkuliahan plus tugas, latihan alias pekerjaan rumah. Nah bila ada kesulitan mengerjakan tugas itu, bisa dibahas dalam sesi tutorial, di mana 1 dosen hanya melayani 2 mahasiswa.

"Misal, tentang kalkulus kita dikasih latihan soal atau PR yang dikerjakan di rumah. Nah selama tutorial, kita bahas PR itu, konsultasi selama 2 jam. Jadi cukup intensif juga, jadi dosen tahu progress kita di situ. Bagusnya Oxford di situ," jelas dia.

Di Oxford, riset sangat ditekankan. Pertanyaan seimajinatif dan seliar apapun tentang suatu ilmu, sangat diakomodasi. Dosen-dosen di Oxford, menurut Samuel, bekerja paruh waktu. Sepenuh waktunya, sebagai peneliti.

"Jadi, dosen itu mengajarkan ilmu yang terus berkembang, tidak terpaku saja pada buku teori," jelasnya.

Di luar kegiatan akademis, Samuel masih menyempatkan diri berorganisasi dan bersosialisasi. Salah satu organisasi yang diikutinya adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) United Kingdom Cabang Oxford. Di PPI UK Oxford, Samuel sempat menjabat wakil ketua pada periode 2015-2016.

"Di Oxford sendiri ada 30 mahasiswa Indonesia, mayoritas S2 dan S3, S1 mungkin sekitar 5 atau 6 orang. Saya wakil ketua PPI Oxford 2015-2016. Jadi, sebelum itu kan belum establish banget. Saat saya jabat wakil ketua, kami berusaha mendaftarkan PPI Oxford ini ke Oxford University dan sekarang sudah resmi terdaftar. Kita juga mengadakan misalnya di Oxford International Festival, kita buka stan, jualan makanan Indonesia di sana, perkenalkan budaya-budaya Indonesia, pajang baju-baju batik dan sebagainya yang memperkenalkan Indonesia," tutur anak kedua dari 3 bersaudara pasangan Leon Rompas (52) dan Sukian (51) ini.

Samuel juga tergabung dalam tim sepakbola kampusnya karena hobi sepakbola, juga bergabung dalam lembaga student concultancy alias konsultan mahasiswa.

"Kita mahasiswa dilatih jadi konsultan, kita menangani klien usaha menengah yang mau dibantu, untuk peneliti lokal, nggak harus mahasiswa, masyarakat umum juga bisa. Misal mau buka usaha makanan, manajemennya gimana, bisa kita bantu. Atau misal kita bisa bantu City Council Kota Oxford, walikotanya mau coba promosi apa atau membuat perpustakaan baru, kita bantu manajemennya," paparnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4