"Memori tidak akan hilang. Semalam saya aktif lagi di Instagram. saya pasang hashtag sampai kapanpun jiwa saya tetap prajurit. Sampai kapanpun itu tidak akan pernah hilang," ungkap Agus.
Hal tersebut disampaikannya saat berbincang dengan media di The Bistro, Cibubur, Jakarta Timur, Senin (3/9/2016). Agus menceritakan pertimbangan hingga prosesnya mundur dari TNI untuk maju di Pilgub DKI berpasangan dengan Sylviana Murni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebersamaan dengan prajurit tidak akan pernah tergantikan, jatuh bangun bersama-sama semua. Satu sakit, semua sakit, satu happy semua happy. Saya juga ingin seperti itu di tempat lain," tuturnya.
Agus Harimurti Yudhoyono di The Bistro, Cibubur, Jakarta Timur (Elza Astari R/detikcom) |
Agus mengaku bahwa mundur dari TNI merupakan keputusan yang sangat berat. Ia pun masih membiasakan diri untuk hidup tidak lagi sebagai seorang prajurit.
"Saya terus menata hati, semakin hari semakin mantap tapi tidak mungkin benar-benar akan hilang," kata Agus.
Suami dari Annisa Pohan itu mengundurkan diri dari TNI sebagai perwira berpangkat Mayor. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo merestui keputusan Agus itu.
Meski begitu, Gatot sempat menyatakan dirinya berat melepas prajurit berprestasinya itu. Sebab Agus sudah tengah disiapkan sebagai kader untuk memimpin TNI di masa yang akan datang. Agus mengaku merasa sangat tersanjung atas ucapan Panglima TNI.
"Saya merasa terhormat, pimpinan tertinggi. Artinya Panglima TNI termasuk Bapak KSAD dan Panglima Kodam Jaya, pimpinan saya langsung, memberikan apresiasi terhadap lintasan pengabdian yang saya lalui," ujar dia.
"Bahkan beliau dengan sangat besar hati mengatakan Agus itu salah satu perwira yang dikader untuk pimpinan masa depan TNI," imbuh Agus.
Agus Harimurti Yudhoyono waktu jadi prajurit TNI |
Pujian dari Panglima TNI disebutnya sebagai pencapaian luar biasa bagi seorang prajurit. Bahkan Agus mengaku sulit menggambarkannya dengan kata-kata.
"(Dari) pimpinan, apalagi bintang empat, Panglima TNI mengatakan seperti itu. Extra ordinary bagi saya. Tetapi saya sekali lagi sudah memutuskan dan beliau menghormati keputusan itu," sebutnya.
Agus mengaku tak akan menyesali keputusannya melepas dunia kemiliteran. Ia siap untuk bertarung dalam pesta demokrasi DKI Jakarta pada 2017 mendatang.
"Bagi saya sudah tidak ada lagi langkah mundur ke belakang. Kita harus teguh pada sasaran dan tujuan. Itu yang bisa saya lakukan, tidak boleh rasa penyesalan," tegas Agus.
Lulusan terbaik Akmil 2000 ini memang dikenal sebagai seorang prajurit TNI berprestasi. Agus dikenal sebagai perwira yang rajin menempuh pendidikan.
Ia menghabiskan pendidikan dasar di Bandung dan Timor Timur selama 2,5 tahun serta Jakarta sebelum akhirnya melanjutkan di Amerika Serikat karena mengikuti penugasan sang ayah. Ia masuk ke SMA, Taruna Nusantara dan lulus dengan predikat terbaik pada tahun 1997. Tak hanya menjadi Ketua OSIS, Agus juga mendapat banyak penghargaan sejak usia dini.
Ia pun mengikuti jejak ayahnya dan masuk ke Akademi Militer. Prestasi yang ditunjukkan Agus semakin gemilang sehingga tak heran, ia lulus dengan predikat terbaik dan meraih penghargaan pedang Tri Sakti Wiratama serta medali Adhi Makayasa.
Bergabung dengan Komando Cadangan Strategis AD (Kostrad), Agus banyak menempuh pendidikan di dunia kemiliteran. Ia juga pernah diberangkatkan ke Aceh untuk melakukan operasi pemulihan keamanan di wilayah yang sempat menjadi daerah operasi militer itu.
Agus sempat kuliah dan menempuh pendidikan master di Singapura pada tahun 2005. Ia mendapat gelar Master of Science in Strategic Studies dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University. Ia juga kerap terlibat dalam program maupun pendidikan leadership.
Bapak satu anak ini pernah dikirim ke daerah konflik di Lebanon dengan tergabung dalam Kontingen Garuda XXIII-A sebagai pasukan perdamaian PBB. Pada 2007, ia diangkat sebagai Komandan Kompi (Danki) di Yonif Linud 305/Tengkorak mengikuti jejak sang ayah yang sempat bertugas di kesatuan tersebut dan ditugaskan bertempur di Timor Timur.
Agus lagi-lagi kembali kuliah dan diterima di Universitas Harvard, Amerika Serikat, dan lulus dengan predikat sangat memuaskan pada 2010. Ia juga sempat ditugaskan ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan Sekolah Lanjutan Perwira di Fort Benning. Selain menjadi lulusan terbaik, Agus mendapat banyak penghargaan dari sekolah tersebut.
"Itu sekolah lanjutan perwira waktu saya Kapten bersama 650 orang US Army dan juga international student lainnya. Untuk diketahui saja," ucap Agus saat dikonfirmasi soal pendidikannya.
Agus Harimurti Yudhoyono di CFD (Yudhistira Amran Saleh/detikcom) |
Agus kemudian diangkat menjadi Kasi Ops Brigif Linud 17/Kujang I Kostrad pada tahun 2012. Saat bertugas di Brigif Linud 17 ini Agus sempat terpilih menjadi komandan tim khusus dan berhasil melakukan tugasnya denga baik melumpuhkan para pemberontak separatis.
Pada 2014, Agus menempuh tugas pendidikan militer di sekolah komando di Amerika Serikat yakni di Command and General Staff College (CGSC) di Amerika Serikat milik US Army. Sang ayah juga sempat mengikuti pendidikan di tempat yang sama.
Agus sukses menyelesaikan pendidikan militernya di CGSC AS selama satu tahun dengan memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif 4. Bahkan cucu Sarwo Edhie ini menerima lencana internasional dari Deputi Komandan CGSC Mayor Jenderal Hughes.
"Alhamdulillah ya waktu berkesempatan mengikuti pendidikan di CGSC, saya mendapatkan GPA 4.0 dari institusi," aku Agus.
Di saat bersamaan, Agus juga meraih gelar Master of Arts (MA) dalam Leadership and Management dari George Herbert Walker School of Business and Technology, Webster University juga dengan nilai kelulusan sempurna atau IPK 4. Agus menempuh dua pendidikan sekaligus di AS saat itu.
"Jadi malam harinya saya ikut program master lagi di bidang leadership and management. Juga mendapatkan IPK yang baik seperti itu," terang Agus.
Setelah kembali dari AS, ia mendapat promosi menjadi Komandan Batalyon mekanis 203/Arya Kemuning di jajaran Kodam Jaya pada Agustus 2015 hingga keputusannya mengundurkan diri dari TNI. Agus seharusnya mendapat kenaikan pangkat menjadi seorang Letnan Kolonel (Letkol) pada April 2017.
Soal capaian pendidikan di CGSC, ia sempat ditempa isu tak sedap. Hanya saja Agus enggan mempermasalahkannya lebih lanjut.
"Ada yang mengatakan saya bohong kepada publik. Tidak pernah saya mengatakan saya lulusan terbaik di institusi itu. Tapi perkara saya mendapatkan IPK 4.0 itu memang faktanya demikian," beber dia.
"Tetapi saat di Fort Benning, saya mendapat lulusan terbaik dan itu faktual. Saya juga heran, saya tidak pernah mengatakan apa-apa, ataupun ketika itu diberitakan, saya tidak mengatakan apa-apa. Maka saya senang ada pertanyaan ini, saya tahu ini untuk klarifikasi," sambung Agus.
Menghadapi persaingan di Pilgub DKI, cagub yang diusung oleh empat partai itu berharap agar kompetisi bisa berjalan sehat. Agus juga mengaku ingin tetap berhubungan baik dengan pesaingnya, Ahok dan Anies Baswedan.
"Saya menyerukan kepada semua, mudah-mudahan kita semua diberikan akal sehat, dijauhi dari buruk sangka, dan marilah kita berkompetisi dengan sehat dan demokratis," tutupnya. (elz/yds)












































Agus Harimurti Yudhoyono di The Bistro, Cibubur, Jakarta Timur (Elza Astari R/detikcom)
Agus Harimurti Yudhoyono waktu jadi prajurit TNI
Agus Harimurti Yudhoyono di CFD (Yudhistira Amran Saleh/detikcom)