"Partai nggak mau capek padahal kursinya yang banyak di DPRD DKI. Kok ngajuin orang yang makin lama makin turun. Kok makin turun diajuin, pasti ada sesuatu. Saya yakin ada sesuatu," kata Eko dalam diskusi bertajuk "Seteru Panas Pilkada DKI, Siapa Kuat?" yang dihelat Jitunews di kawasan SCBD, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2016).
"Saya justru lebih apresiasi ketika PDIP mengusung Ganjar Pranowo di Jawa Tengah. Itu mesin partai benar-benar bekerja. Harusnya di DKI begitu," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eko menambahkan, keputusan PDIP mengusung Ahok bisa menimbulkan konflik internal. Salah satu contohnya, kata Eko, dengan keluarnya Boy Sadikin.
"Bisa terjadi sakit hati di antara kader partai. Bisa jadi contoh Pak Boy Sadikin. Hai internalnya aja banyak yang nggak suka. Padahal kalau dari berangkat dari partai mala saya sebagai partai lain saya apresiasi. Kita juga mau PDIP ajak kadernya, kita tujuh partai dukung Risma," beber dia.
"Kita sadari kita kursinya sedikit jadi tidak bisa ajukan diri. Saudara kita, sudah banyakan kursinya, tidak ajukan diri. Ini kursinya tapi nggak ngajuin kadernya. Ini bagaimana pola rekrutmennya?," imbuhnya.
(wsn/van)











































