Pengikut Dimas Kanjeng Bantah Tudingan Aliran Sesat dan Penggandaan Uang

Pengikut Dimas Kanjeng Bantah Tudingan Aliran Sesat dan Penggandaan Uang

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Senin, 26 Sep 2016 20:23 WIB
Pengikut Dimas Kanjeng Bantah Tudingan Aliran Sesat dan Penggandaan Uang
Foto: Ilustrator Mindra Purnomo
Jakarta - Ketua Yayasan Dimas Kanjeng, Marwah Daud Ibrahim membantah tudingan ajaran aliran sesat dan penggandaan uang oleh pimpinan padepokannya. Yayasan Dimas Kanjeng juga telah mengajak perwakilan MUI untuk datang dan melihat sendiri ajaran yang diberikan kepada santri.

"Kami sudah mengajak orang (MUI Probolinggo) untuk lihat dari subuh sampai subuh kegiatan apa yang sesat, dan saya sudah ajukan keberatan kalau mengeluarkan surat keterangan sesat," ujar Marwah di Mabes Polri, Jakarta Selatan, (26/9/2016).

"Kami minta untuk menunggu sebulan saja, tapi mereka baru datang ketika penyerbuan," sambungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Marwah juga mempertanyakan perihal adanya terbitan ajaran Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Menurutnya, hal itu tidak bisa dipertangungjawabkan.

"Lalu katanya ada terbitan (ajaran -red), sekarang ada nggak tanda tangan yayasan, ada nggak tanda tangan beliau? Kalau tidak ada, tidak bisa kami pertangung jawabkan," bebernya.

Lalu di Yotube, kata Marwah, juga beredar video kesaktian pimpinan padepokannya. Menurutnya, video tersebut juga tidak bisa dipertangungjawabkan.

"Kalaupun ada informasi di Youtube, kami katakan itu liar. Justru itu disampaikan jangan ada informasi keluar. Belum waktunya dipakai, tapikan namanya juga oknum mau tahu itu," paparnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Yayasan Tajudin Rangreng menjelaskan bahwa video yang beredar di Youtube, tidak diupload oleh pimpinan padepokannya. Mereka hanya segelintir orang yang mencoba cari untung dari ketenaran Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

"Yang paling banyak memanfaatkan di Youtube, dengan hubungi Dimas Kanjeng untuk penggandaan uang. Padahal yang di Youtube itu, sudah dilarang. Kalau dilacak nomor teleponnya, itu penipu. Kalau santri rutin pasti tahu," kata Tajudin.

Tajudin mengatakan kalaupun ada masyarakat yang merasa dirugikan telah diingatkan di setiap acara. Apabila mereka tidak terima, uang yang diberikan bisa diambil kembali.

"Setiap acara sudah diumumkan yang merasa dirugikan disampaikan atau butuh uang ya dikembalikan," pungkasnya. (edo/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads