Peta politik saat ini semakin menarik, beberapa koalisi terbentuk namun masih banyak parpol belum menentukan pilihan. Sejumlah parpol belum menentukan koalisi dan siapa tokoh yang akan diusung di Pilgub DKI.
Yang sudah jelas mengambil sikap dari awal adalah Golkar, NasDem dan Hanura yang resmi mengusung cagub incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilgub DKI. Jumlah total kursi tiga parpol ini di DPRD DKI adalah 24 kursi, sudah memenuhi untuk mengusung cagub DKI sendiri. Namun demikian belum jelas siapa cawagub DKI yang akan mendampingi Ahok, saat ini masih tarik ulur antara duet Ahok-Heru Budi Hartono dan Ahok-Djarot Saiful Hidayat, duet kedua masih menunggu keputusan PDIP yang belum clear soal langkah di Pilgub DKI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain partai-partai tersebut, partai lain masih belum mengambil keputusan. Dinamika menjelang Pilgub DKI pun semakin panas.
PDIP yang punya 28 kursi di DPRD DKI sebenarnya bisa mengusung pasangan cagub sendirian. Namun sampai kini Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri belum mengambil keputusan, di internal PDIP konon tengah ramai perdebatan soal PDIP ikut mendukung cagub incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atau mengusung kader sendiri seperti Tri Rismaharini (Risma) ke Pilgub DKI. Belakangan mulai ramai dibicarakan soal duet sesama kader PDIP yakni Risma-Djarot yang dinilai cukup potensial jadi penantang Ahok.
Namun hingga kini belum jelas benar langkah PDIP di Pilgub DKI, sejumlah kader meyakini Megawati akan mengambil keputusan di last minute. Saat ini PDIP tengah menggelar sekolah politik untuk kepala daerah peserta Pilkada Serentak tahun 2017 mendatang. Wagub DKI Djarot Saiful Hidayat ikut dalam sekolah politik ini, semakin memperjelas Djarot pasti akan diusung di Pilgub DKI, namun siapa pasangannya apakah Ahok, Risma atau yang lainnya masih jadi tanda tanya.
Sementara itu PAN, PKB, PPP dan Partai Demokrat sampai kini belum mengambil keputusan soal Pilgub DKI. Kekuatan keempat parpol ini di DPRD DKI masing-masing PAN dengan 2 kursi, PKB dengan 6 kursi, PPP dengan 10 kursi, dan PD dengan 10 kursi. Total kursi keempat parpol ini di DPRD DKI ada 28 , kalau saja mereka menjajaki koalisi masih ada peluang mengusung pasangan cagub sendiri.
Masing-masing parpol tersebut mulai melakukan penjajakan mencari cagub atau cawagub DKI yang akan diusung. PPP melakukan fit and proper test terhadap Yusuf Mansur untuk dimajukan sebagai calon Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Sandiaga Uno, Kamis (8/9) kemarin. Selanjutnya PPP juga akan melakukan fit and proper test Cawagub DKI Jakarta kepada Sylviana Murni (Deputi Gubernur DKI Bidang Pariwisata). Sylviana sendiri juga telah melakukan fit and proper cawagub melalui Partai Gerindra.
Sementara PKB sejak awal mendorong Sekda DKI Jakarta Saefullah menjadi cawagub DKI. Saefullah sebenarnya juga sudah di fit and proper test oleh Gerindra. PKB memang mendorong duet Sandiaga Uno-Saefullah ke Pilgub DKI. Namun situasi menjadi rumit setelah PKS mengklaim telah sepakat dengan Gerindra soal duet Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera.
Sedangkan PAN dan PD masih terus menimang-nimang. Ketum PAN Zulkifli Hasan dalam beberapa kesempatan berharap agar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersedia diusung ke Pilgub DKI namun menyerahkan sepenuhnya ke PDIP. Sedangkan PD sampai kini belum jelas arah politiknya di Pilgub DKI, meskipun kabarnya sempat menawarkan Ketua DPW PD DKI Jakarta, Nachrowi Ramli, menjadi cagub berpasangan dengan Sandiaga Uno. Namun konon tawaran itu ditolak Gerindra sehingga muncullah duet Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera.
Situasi politik menjelang Pilgub DKI semakin tak menentu, dinamika politiknya semakin panas. Kalau Ahok, Sandiaga dipastikan maju ke Pilgub DKI, diperkirakan Pilgub DKI berlangsung dua periode.
"Kalau kemudian menjadi ada 3 calon maka juga tidak apa-apa. Cuma kemungkinan pilgub akan jadi 2 putaran," kata Sekjen PPP Arsul Sani kepada wartawan, Rabu (7/9/2016).
Namun tak menutup kemungkinan Pilgub DKI berlangsung satu putaran. Terutama jika akhirnya PDIP mengambil langkah mendukung Ahok dan menduetkan Ahok-Djarot di Pilgub DKI, meskipun hal itu masih juga bergantung pada parpol lain yang belum mengambil keputusan.
"Yang jelas masyarakat bisa punya variasi pilihan dan suhu politik menurut saya akan lebih adem daripada kalau head to head 2 calon," ungkap Arsul.
Lalu apa ujung dinamika politik yang semakin memanas ini, apakah pada akhirnya parpol-parpol akan merancang head to head antara Ahok dan penantang, ataukah muncul tiga pasangan dan membuka peluang Pilgub DKI dua putaran?
(van/trw)











































