"Industri kreatif berbasis desa sejalan dengan program Smart Kampung yang dijalankan Banyuwangi. Mengapa berbasis desa? Untuk menumbuhkan kemandirian desa sehingga bisa membawa kesejahteraan. Nantinya pengembangan ekonomi kreatif akan dilakukan di desa-desa pilot project yang telah memiliki potensi yang siap untuk dikembangkan, sambil menyiapkan desa-desa lain untuk dikembangkan," ujar Anas melalui video call bersama jajaran SKPD di Ruang Rapat Sekretaris Daerah, Kantor Bupati Banyuwangi, Kamis (8/9/2016).
Desa-desa yang inovatif dan memiliki potensi ekonomi akan didorong untuk semakin mengembangkan produknya. Anas berharap ekonomi kreatif berbasis desa akan berkembang seiring bantuan dari Bekraf.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Aditya MT/detikcom |
Suami dari Ipuk Fiestiandani itu berharap tiap desa yang layak menjadi pilot project bisa mengoptimalkan kualitas produknya. Tak hanya itu dia juga berharap bantuan yang diberikan oleh Pemkab dan Bekraf memantik kemandirian desa.
"Harapan saya lebih penting SDM dibanding dana. Kalau ada barang bagus, jangan uang nanti malah tidak produktif. Kalau ada MoU dengan Bekraf misal nanti minta alat dengan pelatihannya. Nanti kebutuhannya pakai dana desa. Kadang kelompok tidak kompak karena ada bantuan, " tandasnya.
Sinergi dengan Bekraf rencananya bakal dijalin dari sisi penyelenggaraan event tourism lewat Banyuwangi Festival. Bekraf bisa mendukung dari sisi pengembangan kreasi, jaringan, dan infrastruktur industri kreatif lainnya.
"Misalnya, Asian Hijab Festival, menurut Bekraf bisa dijadikan promosi bagi Banyuwangi untuk mempenetrasi pasar hijab yang cukup besar di ASEAN. Nanti akan kita hitung jumlah pelaku kreatif di bidang busana muslim Banyuwangi. Bekraf akan membangun pengembangan jaringan pemasarannya, misalnya saja Malaysia selama ini belanja ke Bandung atau Tasik bisa diarahkan ke Banyuwangi," bebernya.
Foto: Aditya MT/detikcom |
Tujuh subsektor Bekraf digarap serius oleh Banyuwangi yaitu fashion, kriya (kerajinan), seni rupa, seni pertunjukan, kuliner, musik, dan desain komunikasi visual. Untuk produk fashion disumbang oleh industri batik dan busana yang saat in sedang bergairah dan banyak dicari untuk cinderamata wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.
Subsektor kuliner Banyuwangi juga tak kalah menarik. Banyuwangi memiliki sejumlah kuliner khas yang banyak diminati seperti rujak soto, pecel pitik, aneka kopi, dan olahan buah.
"Waktu saya ceritakan kita punya rujak soto, Bekraf langsung mengundang Banyuwangi untuk ikut serta di Festival Soto di Korea bulan Oktober besok," tambahnya.
Foto: Aditya MT/detikcom |
Anas menambahkan subsektor pendukung lainnya adalah desain komunikasi visual. Saat ini Banyuwangi memiliki Rumah Kreatif untuk memfasilitasi desain bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.
"Jika Bekraf turun tangan mengembangkan subsektor desain komunikasi visual tentu pemasaran berbagai produk dan jasa industri kreatif di Banyuwangi bakal kian progresif. Desain komunikasi visual ini penting karena produk bisa bagus, tapi tanpa komunikasi visual yang memadai, dia tak akan laku di pasar," pungkasnya. (ams/trw)












































Foto: Aditya MT/detikcom
Foto: Aditya MT/detikcom
Foto: Aditya MT/detikcom