Sehari Bersama Fethullah Gulen

Hidup Sederhana Gulen dan Ruangan 45 Meter Persegi

Arifin Asydhad - detikNews
Rabu, 24 Agu 2016 11:13 WIB
Foto: Ruang tidur Gulen/Foto: Arifin Asydhad
Pensylvannia - Sudah sekitar 17 tahun ulama Turki Fethullah Gulen tinggal di kamp Golden Generation, Worship and Retreat Centre (GGWRC) yang berada di kawasan pedesaan Saylorsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat. Dia meninggalkan Turki pada 1999, di tengah namanya diseret-seret dalam politik.

Gulen saat ini memiliki jutaan pengikut. Tidak ada yang bisa memastikan berapa jumlah pengikut Gulen sebenarnya. Hingga saat ini Gulen sama sekali tidak membentuk sebuah organisasi, sehingga pengikutnya tidak terdeteksi. Dia selama ini hanya menyampaikan ajaran-ajaran dan pesan-pesan yang kemudian diikuti oleh masyarakat Turki.

Monitor CCTV di ruang tidur
"Selama ini kami tidak tahu berapa jumlah pengikut Gulen, karena kami tidak pernah mengisi formulir," kata Alp Aslandogan, yang saat ini dipercaya sebagai juru bicara Gulen bila bertemu media. Yang jelas, ada jutaan warga Turki yang menjadi pengikut Gulen yang tinggal tidak hanya di Turki, tapi juga menyebar ke 170 negara. Ada gerakan bersama yang dilakukan para pengikut Gulen, yaitu Hizmet. Ini merupakan gerakan pelayanan yang fokus utamanya pada pendidikan dan kesehatan.

Baca Juga: Sehari Bersama Fethullah Gulen

Gerakan Hizmet ini dilakukan secara swasembada para pengikut Gulen. "Gulen sama sekali tidak mendapatkan bayaran dari banyaknya sekolah maupun RS yang dibangun para pengikut Gulen," kata Osman, salah seorang pengurus Yayasan Golden Generation.

Ruang kerja Gulen
Dengan demikian, Gulen tidak punya sekolah, RS, atau perusahaan. Karena itu, apabila ada informasi bahwa Gulen berbisnis sekolah dan RS, itu tidak benar. Sekolah dan RS dimiliki dan dikelola oleh para pengikut Gulen, yang sama sekali tidak ada struktur dengan Gulen. "Sampai sekarang Pak Gulen tidak memiliki jabatan apa pun," kata Osman.

Ruang ta'lim
Satu-satunya pendapatan Gulen selama hidupnya, berasal dari royalti buku-buku yang ia tulis. Namun, royalti ini pun sudah tidak ia terima lagi, karena penerbit buku-buku Gulen di Turki sudah ditutup oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Sebelumnya, uang royalti buku yang ia terima, ia juga gunakan untuk membayar ruangan seluas 15 meter persegi yang ia tinggali selama ini. Sisanya ia sumbangkan untuk kegiatan di Kamp GGWRC. Sebenarnya Gulen juga memiliki uang pensiun dari PNS yang ia jalani sebelum meninggalkan Turki. Namun, pemerintah Turki telah menghentikan uang pensiunnya. Dia tidak ada alasan menumpuk harta, karena juga tidak punya istri dan anak.

Kitab-kitab Gulen
Sebagai ulama kharismatis yang sangat berpengaruh, kehidupan Gulen di kamp GGWRC sangat sederhana. Dia tinggal di ruangan 45 meter persegi di lantai 2 sebuah gedung berdinding kayu, tanpa ada asisten khusus. Ruangan yang ia pakai terdiri dari 3 bagian. Begian terbesar adalah ruang ta'lim, kemudian ruang kerja, dan ruang tidur.

Baca Juga: Melihat dari Dekat Kamp Tempat Tinggal Gulen

detikcom berkesempatan melihat-lihat ruangan Gulen ini. Begitu pintu dibuka, ruangan yang ditemui pertama kali adalah ruangan ta'lim. Ruangan ini beralas karpet Turki dengan di bagian dindingnya terdapat banyak kitab dan buku. Ada kursi di bagian tengah yang digunakan untuk duduk Gulen saat memberikan ta'lim. Juga ada kursi sofa yang dibangun mengelilingi ruangan, sebuah desain khas Turki. Tulisan kaligrafi juga menghias dindingnya.

Kitab Gulen di rak buku
Di bagian pojok kiri, ada pintu masuk ke ruang kerja dan ruang tidur. Ruang kerja juga penuh dengan buku dan kitab. Ada meja kerja plus kursinya yang digunakan Gulen untuk membaca dan menulis. Sementara ruang tidurnya, tergitung sempit. Hanya ada satu kasus ukuran sedang, meja kecil dan lemari kecil untuk menyimpan pakaian. Ada juga monitor kecil cctv yang digunakan Gulen memantau tamu yang akan datang dan melihat suasana di ruangan ta'lim.

Sebagian buku karya Gulen berbahasa Indonesia
Demikian kehidupan Gulen yang sederhana. Dia seringkali ditulis di media memiliki kekayaan yang luar biasa yang ia dapatkan dari sekolah-sekolah dan RS-RS Gulen. Padahal, tidak demikian. Sejak beberapa bulan lalu, Gulen telah dipindahkan ke ruangan yang lebih gampang dijangkau di gedung utama yang baru dibangun yayasan tiga tahun lalu. Selain masalah kesehatan, dipindahnya Gulen ini terkait faktor keamanan dan kenyamanan. Di ruangan lama, Gulen harus naik tangga ke lantai dua, yang tentu menyusahkan pria seusia 75 tahun seperti dirinya.



(asy/fjp)