Arcandra Tahar Semestinya Jujur Sejak Awal Miliki Dua Kewarganegaraan

Arcandra Tahar Semestinya Jujur Sejak Awal Miliki Dua Kewarganegaraan

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Jumat, 19 Agu 2016 15:54 WIB
Arcandra Tahar Semestinya Jujur Sejak Awal Miliki Dua Kewarganegaraan
Foto: Yudhistira AS
Jakarta - Arcandra Tahar dinilai melakukan satu kesalahan. Dia tak terus terang dan jujur mengenai status kewarganegaraannya. Bila sejak awal dia mendeclare memiliki dua kewarganegaraan dan kemudian memilih Indonesia akan lain soal.

"Ada satu kesalahan yang dilakukan Pak Arcandra, beliau tidak mau berterus terang kepada pers. Bahwa beliau memiliki dwi kenegaraan. Malah jawabnya lihat wajah saya Minang," jelas pengamat politik, Ikrar Nusa Bhakti dalam diskusi di Para Syndicate Jakarta, Jumat (19/8/2016).

Ikrar kemudian juga menuturkan, dia yakin sebenarnya Istana tahu bila Arcandra memiliki dwi kewarganegaraan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenapa tahu? Karena Pak Arcandra sudah pernah ke Indonesia. Poin kedua, kemungkinan besar teman-teman di istana itu abai. Atau memandang dunia ini persoalan dwi kewarganegaraan ini jangan dipandang sesuatu yang sangat sempit. Apalagi Anda tahu, posisi Kementerian ESDM itu posisi sangag penting di kabinet," jelasnya lagi.

"Ada Menkeu, ESDM, Perindustrian, Perdagangan, Pertanian, itu lima kementerian yang sangat penting posisinya. Anda tahu juga Golkar sudah mengajukan nama. PDIP juga bukan bukan mustahil menginginkan jabatan itu. Karena itu posisi sangat kaya dan basah," tambahnya lagi.

Ikrar kemudian menyebut langkah Arcandra yang menandatangani kontrak Freeport untuk ekspor konsentrat memang mau tak mau akan diambil siapapun menteri ESDM-nya.

"Jadi saya melihatnya seperti itu. Mudah-mudahan ini cepat selesai. Saya ingin jelaskan pandangan saya, karena saya berpandangan liberal. Saya masih nasionalis, saya masih Indonesia. Ada 56 negara yang sudah menyesuaikan imigrasi kewarganegaraannya. Salah satu yang mengakui itu adalah India. Ada salah satu astronot India berkewarganegaraan Amerika yang ketika PM-nya tahu lalu memberikan paspor India. Yang ada sekarang itu adalah perang memperebutkan talenta," tegas dia.

Soal dwi kewarganegaraan ini soal talenta. Jadi, negara manapun akan siap saja menerima mereka yang bertalenta.

"Ada anak kampung kuliah di ITB kemudian dia kuliah ke Jepang lalu menghasilkan 4G, lalu sama Australia dikatakan gila. Tapi ternyata dia diterima di Amerika Serikat walau kerjanya di Eropa. Istrinya juga berjilbab. Brain drain terbesar itu era Orde Baru. Tidak sedikit anak-anak Indonesia yang dikirim ke luar negeri khususnya Eropa Timur, mereka kehilangan WN Indonesia gara-gara mereka tak mengakui pemerintahan Orde Baru," tuturnya.

"Tidak sedikit anak-anak Indonesia yang diberi beasiswa oleh Pemerintah Malaysia, oleh Petronas nanti mereka diharapkan menjadi WN Malaysia. Lalu pembuat pesawat tanpa awak yang dikatakan dibuat Malaysia itu pembuatnya orang Indonesia," urainya. (dra/dra)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads