Menggendong Para Tamu Allah Menuju Kemabruran

Laporan dari Arab Saudi

Menggendong Para Tamu Allah Menuju Kemabruran

Rachmadin Ismail - detikNews
Jumat, 19 Agu 2016 11:14 WIB
Menggendong Para Tamu Allah Menuju Kemabruran
Foto: Rachmadin Ismail/detikcom
Makkah - Sebagian jemaah haji Indonesia datang ke Tanah Suci dalam kondisi fisik yang terbatas. Ada yang sudah lanjut usia sampai memiliki kebutuhan khusus. Namun, segala keterbatasan itu bukan penghalang menuju kemabruran. Semangat mereka masih menyala.

Pemandangan ini terlihat saat kedatangan jemaah haji kloter 2 dari embarkasi Batam, Kamis (18/8/2016), siang, di hotel Nawara Manazil Al Kiram, Mahbas Jin, Makkah. Ada 10 bus rombongan yang membawa jemaah haji tersebut dari Madinah. Di Madinah, para jemaah sebelumnya melaksanakan ibadah arbain, yakni salat berjamaah di Masjid Nabawi selama 40 waktu tanpa terputus.

Satu per satu para jemaah turun dengan raut wajah gembira. Walau lelah melanda, semangatnya tetap menyala. "Alhamdulillah, akhirnya tiba di Makkah," kata seorang jemaah wanita lanjut usia sambil merekahkan senyumnya.
Petugas haji membantu jemaah yang dalam kondisi sakit. (Foto: Rachmadin/detikcom)


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para petugas dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi sudah berjejer di depan hotel untuk menyambut mereka. Begitu bus merapat, ada petugas yang naik untuk memberikan penyambutan. Sebagian sibuk mengawasi para pengangkut koper, sisanya menunggu jemaah turun sambil menawarkan bantuan. Setelah jemaah turun semua, ada petugas menyisir sisa-sisa barang jemaah yang kemungkinan tercecer di bus.

Di antara para jemaah, ada yang dalam kondisi sakit, lanjut usia, dan berkebutuhan khusus, sehingga tak bisa berjalan sendiri. Para petugas dengan sigap menyiapkan kursi roda bagi mereka. Namun sebelum naik kursi roda, ada yang harus digendong terlebih dulu. Di sinilah, momen mengharukan itu terlihat. Tanpa jarak, jemaah dan petugas layaknya keluarga yang saling membantu demi satu tujuan: kemabruran.
Petugas haji bahu membahu membantu jemaah tanpa jarak demi satu tujuan: kemabruran. (Foto: Rachmadin/detikcom)


Berada di Makkah, setelah menanti sekian lama, adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi para jemaah. Ada yang sudah menunggu selama 5 tahun, bahkan mungkin 10 tahun untuk mendapat kesempatan ini. Tak heran, dorongan semangat mereka tetap membara.

Sekadar diketahui, berdasarkan data Kementerian Agama per Juni 2016, waktu tunggu rata-rata untuk provinsi Kepulauan Riau, tempat para jemaah tersebut berasal adalah 14,89 tahun. Artinya, bila Anda mendaftar sekarang, minimal waktu tunggu rata-rata untuk bisa berangkat adalah sekitar 14 tahun. Di daerah lain, ada yang lebih lama, bahkan ada yang mencapai rata-rata 30 tahun!



Kesempatan ini tak disia-siakan oleh jemaah untuk beribadah. Demikian juga para petugas. Tak setiap tahun para petugas ini bisa melayani Tamu Allah di Tanah Suci. Ada kemungkinan tahun depan, mereka akan berganti. Karena itu, tak heran para petugas juga berlomba untuk melayani para jemaah dengan harapan bisa menjadi bagian dari kemabruran mereka.
Kadaker Makkah Arsyad Hidayat mengatakan sebagai petugas, bentuk ibadahnya bukan dalam bentuk ritual biasa. Membantu jemaah adalah bagian dari ibadah tersebut. (Foto: Rachmadin/detikcom)


Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat dalam acara ta'aruf persiapan menyambut jemaah haji pada Rabu (17/8) malam memang menyampaikan, sebagai petugas, bentuk ibadahnya bukan dalam bentuk ritual biasa. Membantu jemaah adalah bagian dari ibadah tersebut. Barang siapa membantu jemaah mencapai kemabruran, maka orang yang membantu itu Insya Allah mendapat kemabruran juga.

"Dan tak ada ganjaran kemabruran selain surga," demikian pesan Arsyad menyemangati para petugas haji. (mad/aan)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads