Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 itu justru mengaplikasikan agama sebagai rumusan transformasi sosial masyarakat. Sehingga pelayanan sosial menjadi ciri gerakan Muhammadiyah.
"Kalau kita melihat sejarah, jejak dari perjalanan dan kiprah Muhammadiyah yang dirintis Kyai Dahlan, pendiri Muhammadiyah, fungsi pelayanan sosial adalah bagian dari pandangan keagamaan yang mengajarkan kita bahwa beragama itu harus ada fungsi untuk membebaskan, memberdayakan dan memajukan hidup manusia," ujar Haedar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Haedar, Ahmad Dhalan ialah sosok yang sederhana baik pribadi maupun pemikiran sosialnya. Namun hal itu dapat menjadi terobosan baru di awal abad 20. Saat dimana umat dalam kondisi keterbelakangan pada hidup agama dan dunia.
"Saat itu kita saksikan umat dan bangsa kita dalam kondisi miskin, bodoh, tertindas dan dhuafa," kata Haedar.
Dahlan menganjurkan kepada muridnya mulai dari masyarakat tataran elite hingga masyarakat kelas bawah untuk membaca dan menghafal surat Al-Maun. Sebab, di balik surat yang dibaca itu ada imperatif teologis yang sangat tajam dan punya dampak luas.
"Awalnya mereka diajarkan 3 bulan. Mereka sempat protes. Namun yang diajarkan Dahlan, orang selain salat, ia harus membebaskan anak yatim dan kaum yang miskin. Sehingga jadi insan yang berdaya, mandiri dan sederajat dengan insan lain," kata Haedar.
"Yang mungkin pada ulama sebelumnya belum bisa menguak. Mereka yang belum berkenalan dengan teori teologi pembebasan, Marxis, menggunakan ketajaman rasio hingga menemukan bahwa ayat ini adalah ayat transformatif, ayat pencerahan," imbuh Haedar.
Pada pendalaman makna dan kebiasaan itu kemudian Kyai Dahlan, lanjutnya, resmikan Penolong Kesengsaraan Umum (PKU). Sifat PKU ini punya pelayanan inklusif. Hingga akhirnya berubah menjadi Poliklinik Muhammadiyah pada 1993, pasien yang datang tidak pandang ras, agama, golongan.
Lebih dalam, Haedar melanjutkan bahwa ayat Al-Maun sebagai penerjemahan tauhid yang diubah menjadi wujud kerja. Ahmad Dahlan disimpulkannya, dapat menafsirkan Al-Quran dan masuk pada konteks zaman.
"Syahadat kita, tauhid kita. Syahadat sebagai inti tauhid, sebetulnya punya dimensi pembebasan. Barang siapa membiarkan orang miskin dan papa tetap tertindas oleh mereka yang punya kuasa, politik, uang sebenarnya ialah orang yang jauh dari nilai tauhid. Orang yang bertakwa kepada Allah harus punya nilai ikhsan terhadap kemanusiaan," ujar Haedar.
"Allah akan membela siapapun hamba yang membela saudara. Jika panggilan praktisi kita lahir dari tauhid, dia akan punya komitmen, militansi dan daya jelajah yang tidak akan surut. Inilah kenapa orang luar menyebut Muhammadiyah sebagai pembaharu, karena melahirkan pranata sosial yang baru. Dari para pembaharu, muncul pranata baru," tutupnya. (dra/dra)










































