Kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 sangat luar biasa. Data satelit Modis mendeteksi jumlah hotspot selama tahun 2015 tercatat 129.813 hotspot. Jarak pandang saat itu hanya 100 meter. Indeks standar pencemaran udara (ISPU) mencapai lebih dari 2.000 psi atau sudah sangat berbahaya. Hutan dan lahan seluas 2,61 juta hektar terbakar dengan kerugian ekonomi mencapai Rp 221 triliun. Aktivitas pendidikan dan penerbangan lumpuh selama 2-3 bulan.
"Kondisi tersebut sangat berbeda dengan tahun 2016. Sejak 1 Januari 2016 hingga 11 Agustus 2016, satelit Modis mendeteksi jumlah hotspot adalah 10.174 di Indonesia. Bandingkan dengan 129.813 hostpot selama tahun 2015," ujar Sutopo dalam siaran persnya kepada detikcom, Jumat (12/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Diharapkan pencegahan karhutla dapat berkelanjutan. Artinya dapat berlangsung jangka panjang. Bahkan saat ada El Nino di masa mendatang pun karhutla dapat dicegah," ujarnya.
(rvk/ndr)










































